Cermin Dunia Kedokteran No. 10, 1983
29
Diare Kronik pada Bayi dan Anak
dr. Suharyono
Sub Bagian Gastroenterologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSCM, Jakarta
PENDAHULUAN.
Menurut definisi, diare kronik adalah diare melanjut sampai
2 minggu atau lebih dengan atau tanpa kegagalan pertumbuhan (
failure to thrive). Banyak nama diberikan untuk diare kronik
seperti intractable diarrhoea, diare yang tidak dapat diobati atau
disembuhkan, protracted diarrhoea , diare yang diperlambat
atau delayed recovery from gastroenteritis, prolonged diarrhoea,
diare yang diperpanjang atau berlangsung lebih
dari
7 hari,
recurrent diarrhoea, diare yang berulang-ulang selama 3 bulan
dan sedikitnya tiap bulannya 1 kali episode diare, persistent
diarrhoea , diare yang menetap.
Telah diketahui oleh kita bahwa dalam menghadapi seorang
penderita diare akut perlu difikirkan apakah penderita terse-but
masuk di dalam kelompok klinis diare akut yang mana
dari
ke-5
kelompok, yaitu : (1) diare akut (murni) , (2) diare akut
+
komplikasi,
(3)
diare akut
+
penyakit penyerta (bron-
kopnemoni, sepsis, ensefalitis, malnutrisi energi protein atau
lainnya, (4) diare akut yang melanjut menjadi diare kronik atau
fase akut
dari
diare kronik, dan (5) diare pada penyakit bedah
usus.
Jadi, bila kita membicarakan diare kronik dimaksudkan
membicarakan kelompok klinis diare yang ke-4 tersebut.
MASALAH DIARE KRONIK
Masalah diare kronik adalah lebih kompleks dibanding diare
akut. Perlu diadakan pendekatan masalah (anamnesis,
pemeriksaan klinis, laboratorium dan pemeriksaan penunjang)
yang sangat teliti untuk mendapatkan diagnosis yang lebih tepat
agar pengobatannya dapat berhasil.
Selanjutnya setiap faces, dilihat warna (kuning, hijau, putih
atau lainnya), penampakan (appearance) (berair, berlemak,
berdarah) dan baunya (busuk, asam atau lainnya).
Klasifikasi yang biasa didapat didasarkan atas sifat tinja,
berair, berlemak, berdarah sehingga lebih dapat membantu
dalam menghadapi masalahnya.
KLASIFIKASI DIARE KRONIK PADA BAVI DAN ANAK.
A. Watery stools
1. Allergic gastroenteropathy
-- Cow s milk protein allergy (CMPA or CMPSE)
- Soy-protein allergy
2. a. Disaccharidase deficiencies
-- Lactase deficiency -- often secondary
-- Sucrase -- isomaltase deficiency
b. Glucosa -- galactose malabsorption
3. Primary immune defects
4. Intestinal viral and bacterial infections parasitic (Giardia)
5. Contaminated small bowel syndrome
-- Intestinal obstruction, blind loops, malrotasi, short bowel
syndrome, etc.
-- Hirschsprung s disease, enterocolitis
8. Persistent postenteritis diarrhea with or without carbohydrate
intolerance
9. Diarrhea associated with endocrine disorders
-- Hyperparathyroidism
-- Adrenal insufficiency
-- Diabetes mellitus
8. Diarrhea associated with tumors
-- Medullary carcinoma of the thyroid
-
Ganglioneurome
-- Zollinger -- Ellison syndrome
9. Bile acid malabsorption -- cholerrhoic diarrhea
B. Fatty stools
1. -- pancreatic insufficiency, PEM. Low Birth Weight
- hypoplasia (Schwachman syndrome)
-- cystic fibrosis, celiac disease
2. Intestinal lymphangiectasia
3. Cholestasis
-- extra or intrahepatic biliary atretic
-
neonatal hepatic
-- hepatic cirrhosis
7. Drug--induced steatorrhea (e.g. neomycin, cholestyramine)
8. Contaminated small bowel syndrome
-- short bowel syndrome
6. Abetalipoproteinemia,
allergic gastroenteropathy; primary
immune defects; acrodermatitis enteropathica; iron deficiency
anemia; whipple's disease
11
Cermin Dunia Kedokteran No. 29, 1983
C. Bloody stools
1. Baccilary dysentery (Shigella, Salmonella)
2. Amebic dysentery
3. Inflammatory bowel disease
· Ulcerative colitis
· Crohn's disease
6. Pseudomembranous enterocolitis
7. Diarrhea associated with anal lesions.
Sumber : Arasu dkk.
1
Dengan berpegang pada pengalaman
-
pengalaman sendiri
(yang belum banyak di bidang diare kronik), majalah-majalah
2
dan buku-buku teks, untuk kasus-kasus diare kronik terutama
dengan
watery stool
di Bangsal Ilmu Kesehatan Anak FKUI/
RSCM
3
'difikirkan dahulu
'
berturut-turut hal-hal sebagai
berikut :
1. Sindrom malabsorpsi (terutama undernutrisi/PEM dengan
adanya malabsorpsi lemak, lactose intolerance dan maldi-
gesti protein)
2.
Intestinal (chronic) infection (bakteri overgrowth terutama
anaerob, candida, giardia, trichuris), terutama pada PEM
3.
CMPSE
(terutama
"
non ASI"
+
diberi susu sapi) dan 'kelu-
arga alergi'
4.
Drug associated diarrhoea (neomycin, ampicillin, clindamy-
cin ,
obat cytostatik)
5. CSBS, terutama pada kasus-kasus obstruksi letak rendah/ usus
bagian bawah (Hirschsprung, malrotasi, volvulus, polyposis
dan.lain-lain) ; (bila semula ada obstipasi/obstruksi dan atau
bloody stool, agar lebih cepat dilakukan pemeriksaan
radiologi, sigmoidoskopi/colonoscopy dan bedah (kalau perlu)
.
6. Cholerrhoeic diarrhoea terutama pada kaus-kasus pasca
reseksi ileum terminale (warna feces : hijau tanpa lendir)
7. Defek imun primer atau immuno deficiency (SIgA) (pada bayi
terutama pada Berat Badan Lahir Rendah dengan SIgA yang
rendah dan tidak diberi ASI).
PATOFISIOLOGI DIARE KRONIK
Mekanisme diare kronik bergantung kepada penyakit dasar-
nya. Sering yang menyebabkan lebih
dari
satu macam sehingga
efeknya merupakan kombinasi
dari
penyebab
-
penyebab ter-
sebut. Mekanisme patofisiologi diare kronik dapat sebagai :
1. Diare osmotik.
Akumulasi bahan-bahan yang tidak dapat
diserap dalam lumen usus mengakibatkan keadaan hipertonik
dan meninggikan tekanan osmotik intra-lumen yang mengha-
langi absorpsi air dan elektrolit dan terjadilah diare. Contoh :
intoleransi laktosa,malabsorpsi asam empedu.
2. Diare sekretorik
Sekresi usus yang disertai sekresi ion
secara aktif merupakan faktor penting pada diare sekretorik.
Pengetahuan terakhir mekanisme ini didapat
dari
penelitian diare
karena Vibrio cholerae. Patofisiologi pada kolera ialah salah satu
contoh sekresi anion yang aktif dalam usus halus sebagai akibat
stimulasi enterotoksin. Pada sindrom Zollinger Ellison,
hipergastrinemia menginduksi dengan jelas sekresi lambung dan
diare.
3. Bakteri tumbuh
lampau, asam empedu dan asam
lemak.
Dalam keadaan normal, usus halus anak adalah relatif
steril. Bakteri tumbuhlampau dapat terjadi pada setiap kondisi
yang menimbulkan stasis isi usus. Jumlah bakteri usus dapat
meningkat pada bayi dengan diare nonspesifik yang persisten
dan dengan intoleransi monosakarida sekunder. Organisme co-
liform biasanya predominan, walaupun bakteri anaerob (seperti
Bacteroides) mungkin meningkat secara kuantitatif.
Dekonjugasi garam-garam empedu oleh bakteri mengaki-
batkan pembentukan dihydroxy bile acids ataupunmenurunnya
garam-garam empedu terkonjugasi yang menimbulkan gangguan
absorpsi lemak. Lemak dalam diet dikonversi menjadi hydroxy
fatty acids oleh flora kolon (dan mungkin oleh flora usus halus
yang abnormal). Kedua dihydroxy bile acids dan-hydroxy fatty
acids merupakan well-established
colonic
secretagogues dan
menyebabkan diare.
Adanya asam-asam empedu bebas dalam lumen jejunum
nampaknya mempunyai efek negatif terhadap absorpsi mono-
sakarida. Reseksi distal ileum menyebabkan keluarnya asam-
asam empedu dekonjugasi menujukolon, di mana dekonjugasi
bakteri menginduksi pembentukan diarrheogenic dihydroxy bile
acids atau yang disebut juga oleh beberapa penulis dengan
cholerrhoeic diarrhoea.
4.Tidak adanya mekanisme absorpsi ion
secara aktif yang
biasanya terdapat dalam keadaan normal. Contoh klasik ialah
penyakit congenital chloridorrhea. Pada penyakit ini, penderita
tidak mampu mengabsorpsi klorida secara aktif karena defek
pada sistem penukaran anion ileum. Hal ini mengakibatkan
berkurangnya absorpsi cairan, asidifikasi isi lumen usus dan
konsentrasi klorida tinggi dalam cairan tidak terabsorpsi yang
tinggal dalam lumen ileum dan kolon. Konsentrasi klorida tinja
jauh melebihi kombinasi konsentrasi natrium dan kalium.
5. Kerusakan mukosa.
Berkurangnya permukaan mukosa
atau kerusakan permukaan mukosa dapat mengakibatkan
terganggunya permeabilitas air dan elektrolit. Pada celiac sprue
terdapat hilangnya daerah permukaan dan menurunnya effective
pore size mukosa jejunum yang nyata. Kerusakan epitel usus
halus yang difus terjadi pada kebanyakan tipe enteritis karena
infeksi, penyakit Crohn dan pada penyakit penyakit kolon seperti
kolitis ulseretiva, kolitis granulomatosa dan kolitis infeksiosa.
6. Motilitas usus yang abnormal.
Kelainan motilitas usus
menyebabkan gangguan digesti dan/atau absorpsi. Berkurang-
nya motilitas memudahkan terjadinya stasis dan bakteri turn-
buhlampau, sedangkan kenaikan motilitas akan mengakibatkan
transit nutrisi yang cepat di usus dan menimbulkan kontak lama
dengan mukosa yang inadekuat. Berkurangnya motilitas usus
terdapat pada diabetes dan skleroderma. Motilitas usus yang
bertambah berhubungan dengan isi usus yang meninggi (seperti
pada diare osmotik),inflamasi usus dan keadaan-keadaan
terdapatnya circulating humoral agents (seperti prostaglandin
dan serotonin) yang meningkat secara aktif. Pada short bowel
syndrome (sering pasca-bedah), terdapat daerah permukaan
absorpsi yang inadekuat dikombinasi dengan transit
cepat yang akan mengakibatkan diare. Hipersekresi lambung
pada transient hypergastrinemia juga dapat menghasilkan
Cermin Dunia Kedokteran No. 12, 1983
29
diare segera sesudah operasi. Bayi dengan usus
.
halus kurang
dari 40 cm jarang dapat hidup, terutama bila
valvula ileosekal
direseksi.
7. Sindrom diare kronik.
Kebanyakan bayi dengan severe,
protracted diarrhoea akan menunjukkan
perubahan mukosa
usus halus berupa atrofi vilus, Kehilangan nutrien yang melan-
jut dan masuknya kalori yang inadekuat mengakibatkan deplesi
protein yang bermakna dan malnutrisi. Pada terjadinya deplesi
protein, regenerasi morfologik dan fungsional usus halus akan
terganggu; ini menimbulkan malabsorpsi yang menyeluruh dan
diare yang terus menerus, dan terjadilah lingkaran setan.
8. Mekanisme lain. Defisiensi seng (Zn) berhubungan de-
ngan diare kronik seperti pada akrodermatitis enteropatika.
Mekanisme diare pada gastroenteropati alergik masih perlu
diselidiki, walaupun terdapat alasan untuk meduga bahwa
mukosa rusak dan fungsi terganggu. Hal ini sebaiknya dibahas
tersendiri pada pembahasan alergi susu sapi atau
cow
'
s
milk
protein sensitive enteropathy. CMPSE.
DIAGNOSIS
· Riwayat penyakit adalah penting untuk menilai anak de-
ngan diare kronik. Perlu ditanyakan pada orangtua penderita :
saat mulainya diare serta adanya gejala ekstraintestinal seperti
infeksi saluran pernafasan bagian atas. Adanya
.
gejala gejala
lain utama yang dapat menduga diagnosis seperti tinja yang
abnormal dan failure to thrive sejak lahir
(cystic
fibrosis),
terjadinya diare sesudah diberikan susu, buah buahan
(defi-
siensi sukrase-isomaltase), hubungan dengan serangan sakit
perut dan muntah (malrotasi), diare sesudah gangguan emosi
atau kecemasan (irritable colon syndrome). Tentang tinja
hendaknya diperinci frekuensi, penampakan, konsistensi dan
adanya darah atau lendir. Khusus tentang bau dan floating,
walaupun nilainya terbatas, perlu ditanyakan. Riwayat diet yang
terperinci sangat penting. Riwayat diare yang profus sesudah
pengobatan antibiotik memberi dugaan adanya enterokolitis
pseudomembranosa.
· Pemeriksaan fisik perlu dicatat pada standard anthropome-
tric chart : tinggi, berat badan. lingkaran kepala. Perhatian
khusus perlu diberikan pada keadaan umum pasien, status
hidrasi, gejala kehilangan berat badan (wasting of buttocks and
shoulder girdle, wrinkling of thighs), pemeriksaan abdomen (
distensi, nyeri, hepatosplenomegali, thickened bowel loops,
bunyi usus), ekskoriasi pantat, finger clubbing, edema perifer
dan manifestasi kulit. Pemeriksaan anorektal adalah penting
pada anak dengan diare. Rectal toucher perlu dilakukan, bila
terdapat tinja berdarah.
· Pemeriksaan laboratorium
(a) Tinja : Nampaknya, konsistensi dan lain-lain, pH dan
clinitest setiap hari dengan cara bedside diagnosis, peme-
riksaan tinja untuk fat globules, leukosit dan reducing
substances, pewarnaan Gram, biakan dan pemeriksaan
untuk telur cacing dan parasit.
(b) Darah : darah lengkap, serum elektrolit, karoten, kalsium,
magnesium, fosfatase lindi, cholesterol, waktu protrom-
bin, elektroforesis serum protein, imunoglobulin.
(c) Kadar klorida keringat, foto toraks dan abdomen.
(d) Adanya reducing substances dalam tinja anak yang berpH
rendah disertai erithema natum, menyarankan adanya
malabsorpsi
karbohidrat.
Sukrosa
bukan
reducing
substance dan diperlukan acid hydrolisis sebelum ditam-
bahkan tablet clinitest. Sering terjadi defisiensi laktase
sekunder yang mengikuti gastroenteritis. One hour xylose
absorption test dianjurkan. Pemberian formula bebas atau
rendah laktosa akan mengatasi masalahnya.
Walaupun lebih jarang, malabsorpsi monosakarida dapat
terjadi pada diare yang berat dan malnutrisi. Mengenai
intoleransi karbohidrat primer (tidak biasa), yang paling
sering terlihat ialah difisiensi sukrase -- isomaltase, sedang
malabsorpsi glukosa -- galaktosa jarang dan alaktasia
kongenital sangat jarang. Bila terdapat dugaan intoleransi
karbohidrat, seharusnya dilakukan pemeriksaan toleransi (
laktosa, sukrosa dan glukosa) untuk menetapkan
diagnosis. Test breath hydrogen saat ini dimasukkan
dalam evaluasi malabsorpsi karbohidrat, tetapi digunakan
secara terbatas.
(e) Adanya leukosit cukup banyak dalam tinja bersama sama
dengan lendir dan bakteri menduga adanya Shigella,
Salmonella, bentuk invasif Escherichia coli (EIEC) atau
enterokolitis pseudomembranosa. Pada penyakit tifoid,
tinja mengandung sel-sel mononuklear.
-- Kolitis ulseratif selalu dihubungkan dengan banyak
leukosit polimorfonuklear(dan kadang kadang eosino-
fil), sedang pada disenteri amoeba tidak atau sedikit
mengandung leukosit, terkecuali bila terdapat infeksi
bakteri sekunder.
-- Biakan tinja dilakukan untuk mendapatkan informasi
akurat tentang flora usus dan kontaminasi. Tidak cukup
untuk hanya mengetahui bahwa tidak ada kuman
patogen. Pewarnaan Gram tinja segar memberikan
informasi tambahan. Pemeriksaan yang sederhana ini
memungkinkan
kita
untuk
mendiagnosis
suatu
overgrowth stafilokokus, streptokok atau candida..
(f) Pemeriksaan parasit harus dikerjakan dari tinja segar.
Giardia lamblia (dan kadang kadang cacing trichuris
trichiura) ialah parasit yang dianggap menyebabkan diare
kronik.
(g) Adanya banyak butir lemak secara mikroskopik (kriteria
Drumney) menunjukkan kemungkinan adanya insufisiensi
pankreas. Serum karoten 100 mg per dl atau lebih me-
nyingkirkan kemungkinan malabsorpsi lemak kronik, se-
dang, kurang dari 50 mg menyatakan adanya kemungkin-
an malabsorpsi lemak. Diagnosis malabsorpsi lemak akan
lebih dipercaya bila pemeriksaan dilakukan dengan
pengumpulan tinja 72 jam (metode v.d. Kamer) atau
lipiodol absorption test (LAT). Terhadap pasien dengan
serum karoten rendah, sebaiknya dilakukan one-hour
blood xylose test (sesudah pemberian xylose larutan 10%,
13
Cermin Dunia Kedokteran No. 29, 1983
14,5 gm per m
2
)
·
Bila nilai one hour xylose abnormal (kurang
dari
25 mg per
dl) perlu dilakukan biopsi usus halus
a. Iyngkaran
4
mengemukakan perlunya pemeriksaan fos-
fatase lindi, one-hour blood xylose di samping pemerik-
saan eosinofil darah, komplemen serum dan biopsi
yeyunum. Ada korelasi yang baik antara perubahan his-
tologik dan one-hour blood xylose serta kadar fosfatase
lindi serum, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa
one-hour blood xylose dan fosfatase lindi berguna
sebagai parameter biokimia untuk diagnosis CMPSE. Jadi
dengan kombinasi antara gambaran klinik dan biokimia
tanpa melakukan biopsi usus (di tempat-tempat tidak
terdapatnya fasilitas biopsi usus), dapat didiagnosis
CMPSE dengan mudah dan terpercaya.
b. Pada pemeriksaan darah tepi bila ditemukan acanthocyte
dan kadar kolesterol yang rendah, memberi petunjuk
adanya abetalipoproteinemia atauhipobetalipoproteine-
meia. Dalam hal ini, elektroforesis serum lipoproptein '
dianjurkan untuk membuat diagnosis. Pada bayi dengan
diare, lesi mukokutan dan alopesia serta kadar Zn serum
rendah mendukung diagnosis akrodermatitis enteropatika;
penyakit ini memerlukan pengobatan dengan Zn.
·
Pada pasien yang tinjanya berdarah dianjurkan pemerik-
saan kolonoskopi atau sigmoidoskopi dengan atau tanpa biopsi
rektum. Infeksi Salmonella dan Shigella, maupun chronic
inflammatory bowel disease, dapat menyebabkan tinja berdarah.
Pada kolitis alergik, kenaikan jumlah eosinofil mungkin terlihat
di lamina propria. Anak dengan diare profus selama atau
sesudah
pengobatan
dengan
antibiotik
memerlukan
kolonoskopi
atau
sigmoidoskopi
untuk
menyingkirkan
enterokolitis pseudomembranosa.
· Radiografi saluran gastrointestinal membantu mengiden-
tii`ikasi cacat bawaan (malrotasi, stenosis) dan kelainan-kelain-
an seperti : limfangiektasis, inflammatory bowel disease,
penyakit Hirschsprung, enterokolitis nekrotikans.
· Bila diduga kontaminasi usus halus, perlu dilakukan
intubasi duodenum untuk mendapatkan cairan duodenum dan
dilakukan biakan aerobik dan anaerobik. Organisme·organisme
coliform dan anaerob dalam keadaan normal tidak ditemukan di
usus halus; terdapatnya kuman-kuman ini memberi tanda
adanya kontaminasi.
· Melanjutnya diare berair dan kegagalan dalam semua
usaha oral feeding (termasuk elemental diet) menunjukkan
adanya intractable diarrhoea syndrome. Pasien biasanya me-
ngalamai malnutrisi dan alimentasi parenteral sering diperlu-
kan.
· Keadaan klinik tertentu dapat diduga dengan adanya sifat
tinja yang karakteristik. Misalnya, isi cairan yang banyak
menunjukkan intoleransi karbohidrat, chloride diarrhoea.
Warna pucat memberi dugaan penyakit hati atau empedu. Tinja
yang seperti berminyak dihubungkan dengan insufisiensi
pankreas. Adanya vegetable matter dan serat-serat makanan
mempunyai arti kecil dalam diagnosis
1
namun pada sakit perut
berulang yang diduga karena faktor ini artinya cukup penting
5
·
Pendekatan diagnostik
Diare yang menetap untuk lebih
dari
2--3 minggu sesudah
episode akut merupakan masalah yang penting. Hal ini meli-
puti spektrum klinik yang heterogen dan luas, mulai
dari
intoleransi laktosa yang dapat didiagnosis dan diobati dengan
cara yang mudah sampai intractable diarrhoea yang masalah-
nya sulit, balk diagnosis maupun pengobatannya.
Walker--Smith
6
menganjurkan suatu pendekatan diagnostik
yang meliputi hal-hal sebagai berikut :
-- menyingkirkan kelainan bedah,
-- diagnosis penyebab medik
Dalam praktek, terdapat dua kelompok utama masalah medik,
yaitu :
+ intoleransi akut terhadap susu (CMPSE)
+ suatu masalah yang lebih kronik dengan diare, menetap dan
failure to thrive.
Jadi, pendekatan diagnostik meliputi juga pemeriksaan tinja
yang dilakukan hati-hati dengan tekanan pada adanya excess
reducing substances maupun pemeriksaan parasit (Giardia,
Candida, Trichuris trichiura), bakteri dan virus.
Pada masalah yang lebih kronik, dilakukan biopsi usus halus
(pada bayi : sedikitnya yang berat badannya 3,5 kg) untuk
mencari kemungkinan adanya enteropati.
Tindakan mengeliminasi diet yang diikuti dengan pemberi-
an makanan yang dicurigai merupakan peranan yang penting
untuk membuat diagnosis. Memang sangat sering diagnosis
pada kelompok anak ini dilakukan secara retrospektif.
Labenthal (1979) mengemukakan bahwa biopsi usus halus
pada intractable diarrhoea penting dan berguna dan ditemukan
96% kasus-kasusnya menyebabkan atrofi mukosa.
Kerusakan usus halus akan mengakibatkan malabsorpsi
lemak dan karbohidrat. Hal ini akan digunakan oleh bakteri
untuk membentuk asam-asam organik dan akan meninggikan
osmolalitas isi usus, kenaikan sekresi cairan dan menstimulasi
motilitas. Di samping itu, proliferasi bakteri akan menimbul-
kan dekonjugasi asam empedu dan produksi endotoksin yang
menyebabkan melanjutnya sekresi air dan elektrolit.
Di bawah ditunjukkan pemeriksaan lengkap (bila fasilitas
mengizinkan) tahap demi tahap sebagai berikut :
(Lihat skema)
PENGELOLAAN
Umum dan dietetik
Penatalaksanaan dan pengobatan diare kronik tergantung
kepada penyebabnya. Sering pada bayi berumur kurang
dari
6
bulan terdapat intractable diarrhoea yang disertai malnutrisi
berat; kemungkinan adanya CMPSE ha
rus dipertimbangkan.
Pada kasus ini, sesudah koreksi parenteral dan dehidrasi di
atasi, dimulai pemberian 5% dekstrosa dalam air per oral.
Menurunnya reducing substances dan pH feses (kurang
dari
5,
5) pada pemberian minum 5% dekstrose dalam air, menun-
Cermin Dunia Kedokteran No. 14, 1983
14
15
Cermin Dunia Kedokteran No. 29, 1983
jukkan adanya malabsorpsi monosakarida . Ini sering terjadi
karena kerusakan mukosa dan/atau
overgrowth
bakteri di usus
halus.
Formula yang
paling baik diberikan (bila ASI tak mungkin
didapat), ialah yang mengandung glukosa polimer, bebas
laktosa, mengandung protein hidrolisat, medium chain
trigly-
ceride (MCT), osmolalitas kurang sedikit dari 300 mOsm/L dan
bersifat hipoalergenik. Formula yang memenuhi halhal tersebut,
di antaranya ialah formula Pregestimil. Menaikkan konsentrasi
formula dilakukan perlahan-lahan, mula-mula dianjurkan
konsentrasi sepertiga per oral, sedang cairan tetap diberikan
secara intravena. Selanjutnya formula dinaikkan menjadi dua per
tiga per oral, sisa cairan secara intravena.
Bila keadaan sudah cukup baik (kenaikan berat badan balk
yaitu sedikitnya 1 kg), maka Pregestimil diberikan dalam
konsentrasi penuh. Pemberian selanjutnya tergantung pada
keadaan klinik dan pemeriksaan laboratorium (bila mungkin
juga follow up biopsi) yang dilakukan secara teratur.
Penderita dengan alergi susu sapi akan toleran pada umur
sekitar 3 tahun.
7
Pengobatan
a.
Obat anti diare
Tidak perlu diberikan obat anti diare seperti kaolin, pektin,
difenoksilat (Lomotil). Tidak satu pun daripada obatobat ini
memberi efek positif pada patofisiologi. Penelitian baru-baru
ini memberi petunjuk bahwa obat-obat yang memperlambat
motilitas usus justru akan memperpanjang lamanya enteritis
karena infeksi.
b.
Obat anti mikroba
Pengobatan antibiotik pada umumnya tidak dianjurkan,
bahkan hal ini akan mengubah flora usus dan menimbulkan
keadaan diare menjadi lebih buruk. Untuk membersihkan isi
usus anak dengan infeksi usus karena bakteri, fungsi
peristaltik ternyata lebih efektifP Walaupun pada anak lebih
besar antibiotik sebaiknya tidak diberikan, namun pada
neonatus, anak yang sakit serius (sepsis atau lainnya), anak
dengan defisiensi imunologi dan anak dengan protracted
diarrhoea yang sangat berat, dianjurkan tetap diberikan. Di
samping itu, antibiotik masih dianggap berguna pada blind
loop syndrome.
7
Metronidazole merupakan obat yang efektif
dan aman untuk Giardia lamblia dan bakteri anaerob yang
sering terdapat pada blind loop syndrome.
c.
Kortikosteroid
Anak dengan kolitis ulserativa, paling tidak pada serangan
pertama memberi respons baik hanya terhadap enema
steroid, beberapa anak mendapat kombinasi steroid rektal
dan sistemik.'
d.
Imunosupresif
Obat imunosupresif (azathioprine) digunakan pada penya-
kit Crohn dan ini pun hanya diberikan bila pengobatan
konvensional tidak mungkin. Efek samping segera yang
terbanyak ialah penekanan sumsum tulang; karena itu pada
pasien perlu dilakukan pemeriksaan darah secara
teratur.
7
e. Kolestiramin
Penggunaan kolestiramin pada diare kronik, teiutama untuk
malabsorpsi asam empedu (pada reseksi akhir ileum) dan
pada infeksi usus karena bakteri (untuk mengikat endotok-
sin) sangat bermanfaat
f.
Operasi
Bila diare kronik terjadi pada kasus-kasus bedah seperti
misalnya penyakit Hirschsprung, enterokolitis nekrotik, maka
sering terdapat indikasi untuk melakukan operasi. Tindakan
ini hendaknya dilakukan setelah keadaan umum pasien
membaik.
Pengobatan dalam praktek sehari-hari
Setelah rehidrasi initial, proper feeding adalah esensial bagi
penyembuhan diare kronik. Protein yang adekuat, energi dan
nutrien esensial lainnya harus disediakan, untuk mengurangi
risiko episode yang melanjut daripada diare, PEM dai
kematian. Memuasakan penderita tidaklah dibenarkan. ASI
perlu dilanjutkan, bahkan waktu rehidrasi initial.
Tergantung basil pemeriksaan yang telah ditemukan pada
tiap tahap, (maka disusun working diagnosis/suspect diagnosis)
kemudian dapat dimulai pengobatan yang sesuai, sambil
menunggu basil pemeriksaan lanjutan yang kemudian akan
diberi pengobatan yang lebih sesuai.
Biasanya dalam praktek pada kasus dari diare kronik yang
berjalan telah lama dan telah ada gangguan-gangguan yang
berat dari setiap organ (pan malabsorpsi), maka diberikan :
(a) Untuk bayi berumur
kurang 5 bulan, misalnya Pregestimil
(di samping itu ASI diteruskan), yang mempunyai sifat-sifat
mengandung :
·
MCT
·
Protein hidrolysate (dipeptide/tripeptide)
·
Bebas laktosa & mengandung polimer glukosa
·
Hipoalergenik
·
Osmolaritas 296 mOsml/L (semua bahan/nutrien
tersebut sangat mudah diabsorpsi dan tidak menim-
bulkan diare).
(b) Untuk bayi berumur
lebih 5 bulan, yang sudah makan
"makanan padat" maka di samping ASI dan/atau Pregestimil
juga diberi
·
makanan yang mengandung Communited chicken base
formula
8
·
di Bagian Ilmu Kesehatan Anak sedang dicoba bubur
BREDA atau PREDA (bubur/porridge refeeding daging
ayam)
3
, yang mempunyai sifat-sifat/mengandung :
1. UFA
2. CM (cow's milk) protein free
3. Bebas laktosa
4. Mengandung : polimen glukosa.
5. Hipoalergenik.
Daftar Kepustakaan dapat diminta pada redaksi CDK atau
pada penulis.