Senin, 2008 September 22

background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 10, 1983
29
Diare Kronik pada Bayi dan Anak
dr. Suharyono
Sub Bagian Gastroenterologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSCM, Jakarta
PENDAHULUAN.
Menurut definisi, diare kronik adalah diare melanjut sampai
2 minggu atau lebih dengan atau tanpa kegagalan pertumbuhan (
failure to thrive). Banyak nama diberikan untuk diare kronik
seperti intractable diarrhoea, diare yang tidak dapat diobati atau
disembuhkan, protracted diarrhoea , diare yang diperlambat
atau delayed recovery from gastroenteritis, prolonged diarrhoea,
diare yang diperpanjang atau berlangsung lebih
dari
7 hari,
recurrent diarrhoea, diare yang berulang-ulang selama 3 bulan
dan sedikitnya tiap bulannya 1 kali episode diare, persistent
diarrhoea , diare yang menetap.
Telah diketahui oleh kita bahwa dalam menghadapi seorang
penderita diare akut perlu difikirkan apakah penderita terse-but
masuk di dalam kelompok klinis diare akut yang mana
dari
ke-5
kelompok, yaitu : (1) diare akut (murni) , (2) diare akut
+
komplikasi,
(3)
diare akut
+
penyakit penyerta (bron-
kopnemoni, sepsis, ensefalitis, malnutrisi energi protein atau
lainnya, (4) diare akut yang melanjut menjadi diare kronik atau
fase akut
dari
diare kronik, dan (5) diare pada penyakit bedah
usus.
Jadi, bila kita membicarakan diare kronik dimaksudkan
membicarakan kelompok klinis diare yang ke-4 tersebut.
MASALAH DIARE KRONIK
Masalah diare kronik adalah lebih kompleks dibanding diare
akut. Perlu diadakan pendekatan masalah (anamnesis,
pemeriksaan klinis, laboratorium dan pemeriksaan penunjang)
yang sangat teliti untuk mendapatkan diagnosis yang lebih tepat
agar pengobatannya dapat berhasil.
Selanjutnya setiap faces, dilihat warna (kuning, hijau, putih
atau lainnya), penampakan (appearance) (berair, berlemak,
berdarah) dan baunya (busuk, asam atau lainnya).
Klasifikasi yang biasa didapat didasarkan atas sifat tinja,
berair, berlemak, berdarah sehingga lebih dapat membantu
dalam menghadapi masalahnya.
KLASIFIKASI DIARE KRONIK PADA BAVI DAN ANAK.
A. Watery stools
1. Allergic gastroenteropathy
-- Cow s milk protein allergy (CMPA or CMPSE)
- Soy-protein allergy
2. a. Disaccharidase deficiencies
-- Lactase deficiency -- often secondary
-- Sucrase -- isomaltase deficiency
b. Glucosa -- galactose malabsorption
3. Primary immune defects
4. Intestinal viral and bacterial infections parasitic (Giardia)
5. Contaminated small bowel syndrome
-- Intestinal obstruction, blind loops, malrotasi, short bowel
syndrome, etc.
-- Hirschsprung s disease, enterocolitis
8. Persistent postenteritis diarrhea with or without carbohydrate
intolerance
9. Diarrhea associated with endocrine disorders
-- Hyperparathyroidism
-- Adrenal insufficiency
-- Diabetes mellitus
8. Diarrhea associated with tumors
-- Medullary carcinoma of the thyroid
-
Ganglioneurome
-- Zollinger -- Ellison syndrome
9. Bile acid malabsorption -- cholerrhoic diarrhea
B. Fatty stools
1. -- pancreatic insufficiency, PEM. Low Birth Weight
- hypoplasia (Schwachman syndrome)
-- cystic fibrosis, celiac disease
2. Intestinal lymphangiectasia
3. Cholestasis
-- extra or intrahepatic biliary atretic
-
neonatal hepatic
-- hepatic cirrhosis
7. Drug--induced steatorrhea (e.g. neomycin, cholestyramine)
8. Contaminated small bowel syndrome
-- short bowel syndrome
6. Abetalipoproteinemia,
allergic gastroenteropathy; primary
immune defects; acrodermatitis enteropathica; iron deficiency
anemia; whipple's disease
background image
11
Cermin Dunia Kedokteran No. 29, 1983
C. Bloody stools
1. Baccilary dysentery (Shigella, Salmonella)
2. Amebic dysentery
3. Inflammatory bowel disease
· Ulcerative colitis
· Crohn's disease
6. Pseudomembranous enterocolitis
7. Diarrhea associated with anal lesions.
Sumber : Arasu dkk.
1
Dengan berpegang pada pengalaman
-
pengalaman sendiri
(yang belum banyak di bidang diare kronik), majalah-majalah
2
dan buku-buku teks, untuk kasus-kasus diare kronik terutama
dengan
watery stool
di Bangsal Ilmu Kesehatan Anak FKUI/
RSCM
3
'difikirkan dahulu
'
berturut-turut hal-hal sebagai
berikut :
1. Sindrom malabsorpsi (terutama undernutrisi/PEM dengan
adanya malabsorpsi lemak, lactose intolerance dan maldi-
gesti protein)
2.
Intestinal (chronic) infection (bakteri overgrowth terutama
anaerob, candida, giardia, trichuris), terutama pada PEM
3.
CMPSE
(terutama
"
non ASI"
+
diberi susu sapi) dan 'kelu-
arga alergi'
4.
Drug associated diarrhoea (neomycin, ampicillin, clindamy-
cin ,
obat cytostatik)
5. CSBS, terutama pada kasus-kasus obstruksi letak rendah/ usus
bagian bawah (Hirschsprung, malrotasi, volvulus, polyposis
dan.lain-lain) ; (bila semula ada obstipasi/obstruksi dan atau
bloody stool, agar lebih cepat dilakukan pemeriksaan
radiologi, sigmoidoskopi/colonoscopy dan bedah (kalau perlu)
.
6. Cholerrhoeic diarrhoea terutama pada kaus-kasus pasca
reseksi ileum terminale (warna feces : hijau tanpa lendir)
7. Defek imun primer atau immuno deficiency (SIgA) (pada bayi
terutama pada Berat Badan Lahir Rendah dengan SIgA yang
rendah dan tidak diberi ASI).
PATOFISIOLOGI DIARE KRONIK
Mekanisme diare kronik bergantung kepada penyakit dasar-
nya. Sering yang menyebabkan lebih
dari
satu macam sehingga
efeknya merupakan kombinasi
dari
penyebab
-
penyebab ter-
sebut. Mekanisme patofisiologi diare kronik dapat sebagai :
1. Diare osmotik.
Akumulasi bahan-bahan yang tidak dapat
diserap dalam lumen usus mengakibatkan keadaan hipertonik
dan meninggikan tekanan osmotik intra-lumen yang mengha-
langi absorpsi air dan elektrolit dan terjadilah diare. Contoh :
intoleransi laktosa,malabsorpsi asam empedu.
2. Diare sekretorik
Sekresi usus yang disertai sekresi ion
secara aktif merupakan faktor penting pada diare sekretorik.
Pengetahuan terakhir mekanisme ini didapat
dari
penelitian diare
karena Vibrio cholerae. Patofisiologi pada kolera ialah salah satu
contoh sekresi anion yang aktif dalam usus halus sebagai akibat
stimulasi enterotoksin. Pada sindrom Zollinger Ellison,
hipergastrinemia menginduksi dengan jelas sekresi lambung dan
diare.
3. Bakteri tumbuh
lampau, asam empedu dan asam
lemak.
Dalam keadaan normal, usus halus anak adalah relatif
steril. Bakteri tumbuhlampau dapat terjadi pada setiap kondisi
yang menimbulkan stasis isi usus. Jumlah bakteri usus dapat
meningkat pada bayi dengan diare nonspesifik yang persisten
dan dengan intoleransi monosakarida sekunder. Organisme co-
liform biasanya predominan, walaupun bakteri anaerob (seperti
Bacteroides) mungkin meningkat secara kuantitatif.
Dekonjugasi garam-garam empedu oleh bakteri mengaki-
batkan pembentukan dihydroxy bile acids ataupunmenurunnya
garam-garam empedu terkonjugasi yang menimbulkan gangguan
absorpsi lemak. Lemak dalam diet dikonversi menjadi hydroxy
fatty acids oleh flora kolon (dan mungkin oleh flora usus halus
yang abnormal). Kedua dihydroxy bile acids dan-hydroxy fatty
acids merupakan well-established
colonic
secretagogues dan
menyebabkan diare.
Adanya asam-asam empedu bebas dalam lumen jejunum
nampaknya mempunyai efek negatif terhadap absorpsi mono-
sakarida. Reseksi distal ileum menyebabkan keluarnya asam-
asam empedu dekonjugasi menujukolon, di mana dekonjugasi
bakteri menginduksi pembentukan diarrheogenic dihydroxy bile
acids atau yang disebut juga oleh beberapa penulis dengan
cholerrhoeic diarrhoea.
4.Tidak adanya mekanisme absorpsi ion
secara aktif yang
biasanya terdapat dalam keadaan normal. Contoh klasik ialah
penyakit congenital chloridorrhea. Pada penyakit ini, penderita
tidak mampu mengabsorpsi klorida secara aktif karena defek
pada sistem penukaran anion ileum. Hal ini mengakibatkan
berkurangnya absorpsi cairan, asidifikasi isi lumen usus dan
konsentrasi klorida tinggi dalam cairan tidak terabsorpsi yang
tinggal dalam lumen ileum dan kolon. Konsentrasi klorida tinja
jauh melebihi kombinasi konsentrasi natrium dan kalium.
5. Kerusakan mukosa.
Berkurangnya permukaan mukosa
atau kerusakan permukaan mukosa dapat mengakibatkan
terganggunya permeabilitas air dan elektrolit. Pada celiac sprue
terdapat hilangnya daerah permukaan dan menurunnya effective
pore size mukosa jejunum yang nyata. Kerusakan epitel usus
halus yang difus terjadi pada kebanyakan tipe enteritis karena
infeksi, penyakit Crohn dan pada penyakit penyakit kolon seperti
kolitis ulseretiva, kolitis granulomatosa dan kolitis infeksiosa.
6. Motilitas usus yang abnormal.
Kelainan motilitas usus
menyebabkan gangguan digesti dan/atau absorpsi. Berkurang-
nya motilitas memudahkan terjadinya stasis dan bakteri turn-
buhlampau, sedangkan kenaikan motilitas akan mengakibatkan
transit nutrisi yang cepat di usus dan menimbulkan kontak lama
dengan mukosa yang inadekuat. Berkurangnya motilitas usus
terdapat pada diabetes dan skleroderma. Motilitas usus yang
bertambah berhubungan dengan isi usus yang meninggi (seperti
pada diare osmotik),inflamasi usus dan keadaan-keadaan
terdapatnya circulating humoral agents (seperti prostaglandin
dan serotonin) yang meningkat secara aktif. Pada short bowel
syndrome (sering pasca-bedah), terdapat daerah permukaan
absorpsi yang inadekuat dikombinasi dengan transit
cepat yang akan mengakibatkan diare. Hipersekresi lambung
pada transient hypergastrinemia juga dapat menghasilkan
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 12, 1983
29
diare segera sesudah operasi. Bayi dengan usus
.
halus kurang
dari 40 cm jarang dapat hidup, terutama bila
valvula ileosekal
direseksi.
7. Sindrom diare kronik.
Kebanyakan bayi dengan severe,
protracted diarrhoea akan menunjukkan
perubahan mukosa
usus halus berupa atrofi vilus, Kehilangan nutrien yang melan-
jut dan masuknya kalori yang inadekuat mengakibatkan deplesi
protein yang bermakna dan malnutrisi. Pada terjadinya deplesi
protein, regenerasi morfologik dan fungsional usus halus akan
terganggu; ini menimbulkan malabsorpsi yang menyeluruh dan
diare yang terus menerus, dan terjadilah lingkaran setan.
8. Mekanisme lain. Defisiensi seng (Zn) berhubungan de-
ngan diare kronik seperti pada akrodermatitis enteropatika.
Mekanisme diare pada gastroenteropati alergik masih perlu
diselidiki, walaupun terdapat alasan untuk meduga bahwa
mukosa rusak dan fungsi terganggu. Hal ini sebaiknya dibahas
tersendiri pada pembahasan alergi susu sapi atau
cow
'
s
milk
protein sensitive enteropathy. CMPSE.
DIAGNOSIS
· Riwayat penyakit adalah penting untuk menilai anak de-
ngan diare kronik. Perlu ditanyakan pada orangtua penderita :
saat mulainya diare serta adanya gejala ekstraintestinal seperti
infeksi saluran pernafasan bagian atas. Adanya
.
gejala gejala
lain utama yang dapat menduga diagnosis seperti tinja yang
abnormal dan failure to thrive sejak lahir
(cystic
fibrosis),
terjadinya diare sesudah diberikan susu, buah buahan
(defi-
siensi sukrase-isomaltase), hubungan dengan serangan sakit
perut dan muntah (malrotasi), diare sesudah gangguan emosi
atau kecemasan (irritable colon syndrome). Tentang tinja
hendaknya diperinci frekuensi, penampakan, konsistensi dan
adanya darah atau lendir. Khusus tentang bau dan floating,
walaupun nilainya terbatas, perlu ditanyakan. Riwayat diet yang
terperinci sangat penting. Riwayat diare yang profus sesudah
pengobatan antibiotik memberi dugaan adanya enterokolitis
pseudomembranosa.
· Pemeriksaan fisik perlu dicatat pada standard anthropome-
tric chart : tinggi, berat badan. lingkaran kepala. Perhatian
khusus perlu diberikan pada keadaan umum pasien, status
hidrasi, gejala kehilangan berat badan (wasting of buttocks and
shoulder girdle, wrinkling of thighs), pemeriksaan abdomen (
distensi, nyeri, hepatosplenomegali, thickened bowel loops,
bunyi usus), ekskoriasi pantat, finger clubbing, edema perifer
dan manifestasi kulit. Pemeriksaan anorektal adalah penting
pada anak dengan diare. Rectal toucher perlu dilakukan, bila
terdapat tinja berdarah.
· Pemeriksaan laboratorium
(a) Tinja : Nampaknya, konsistensi dan lain-lain, pH dan
clinitest setiap hari dengan cara bedside diagnosis, peme-
riksaan tinja untuk fat globules, leukosit dan reducing
substances, pewarnaan Gram, biakan dan pemeriksaan
untuk telur cacing dan parasit.
(b) Darah : darah lengkap, serum elektrolit, karoten, kalsium,
magnesium, fosfatase lindi, cholesterol, waktu protrom-
bin, elektroforesis serum protein, imunoglobulin.
(c) Kadar klorida keringat, foto toraks dan abdomen.
(d) Adanya reducing substances dalam tinja anak yang berpH
rendah disertai erithema natum, menyarankan adanya
malabsorpsi
karbohidrat.
Sukrosa
bukan
reducing
substance dan diperlukan acid hydrolisis sebelum ditam-
bahkan tablet clinitest. Sering terjadi defisiensi laktase
sekunder yang mengikuti gastroenteritis. One hour xylose
absorption test dianjurkan. Pemberian formula bebas atau
rendah laktosa akan mengatasi masalahnya.
Walaupun lebih jarang, malabsorpsi monosakarida dapat
terjadi pada diare yang berat dan malnutrisi. Mengenai
intoleransi karbohidrat primer (tidak biasa), yang paling
sering terlihat ialah difisiensi sukrase -- isomaltase, sedang
malabsorpsi glukosa -- galaktosa jarang dan alaktasia
kongenital sangat jarang. Bila terdapat dugaan intoleransi
karbohidrat, seharusnya dilakukan pemeriksaan toleransi (
laktosa, sukrosa dan glukosa) untuk menetapkan
diagnosis. Test breath hydrogen saat ini dimasukkan
dalam evaluasi malabsorpsi karbohidrat, tetapi digunakan
secara terbatas.
(e) Adanya leukosit cukup banyak dalam tinja bersama sama
dengan lendir dan bakteri menduga adanya Shigella,
Salmonella, bentuk invasif Escherichia coli (EIEC) atau
enterokolitis pseudomembranosa. Pada penyakit tifoid,
tinja mengandung sel-sel mononuklear.
-- Kolitis ulseratif selalu dihubungkan dengan banyak
leukosit polimorfonuklear(dan kadang kadang eosino-
fil), sedang pada disenteri amoeba tidak atau sedikit
mengandung leukosit, terkecuali bila terdapat infeksi
bakteri sekunder.
-- Biakan tinja dilakukan untuk mendapatkan informasi
akurat tentang flora usus dan kontaminasi. Tidak cukup
untuk hanya mengetahui bahwa tidak ada kuman
patogen. Pewarnaan Gram tinja segar memberikan
informasi tambahan. Pemeriksaan yang sederhana ini
memungkinkan
kita
untuk
mendiagnosis
suatu
overgrowth stafilokokus, streptokok atau candida..
(f) Pemeriksaan parasit harus dikerjakan dari tinja segar.
Giardia lamblia (dan kadang kadang cacing trichuris
trichiura) ialah parasit yang dianggap menyebabkan diare
kronik.
(g) Adanya banyak butir lemak secara mikroskopik (kriteria
Drumney) menunjukkan kemungkinan adanya insufisiensi
pankreas. Serum karoten 100 mg per dl atau lebih me-
nyingkirkan kemungkinan malabsorpsi lemak kronik, se-
dang, kurang dari 50 mg menyatakan adanya kemungkin-
an malabsorpsi lemak. Diagnosis malabsorpsi lemak akan
lebih dipercaya bila pemeriksaan dilakukan dengan
pengumpulan tinja 72 jam (metode v.d. Kamer) atau
lipiodol absorption test (LAT). Terhadap pasien dengan
serum karoten rendah, sebaiknya dilakukan one-hour
blood xylose test (sesudah pemberian xylose larutan 10%,
background image
13
Cermin Dunia Kedokteran No. 29, 1983
14,5 gm per m
2
)
·
Bila nilai one hour xylose abnormal (kurang
dari
25 mg per
dl) perlu dilakukan biopsi usus halus
a. Iyngkaran
4
mengemukakan perlunya pemeriksaan fos-
fatase lindi, one-hour blood xylose di samping pemerik-
saan eosinofil darah, komplemen serum dan biopsi
yeyunum. Ada korelasi yang baik antara perubahan his-
tologik dan one-hour blood xylose serta kadar fosfatase
lindi serum, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa
one-hour blood xylose dan fosfatase lindi berguna
sebagai parameter biokimia untuk diagnosis CMPSE. Jadi
dengan kombinasi antara gambaran klinik dan biokimia
tanpa melakukan biopsi usus (di tempat-tempat tidak
terdapatnya fasilitas biopsi usus), dapat didiagnosis
CMPSE dengan mudah dan terpercaya.
b. Pada pemeriksaan darah tepi bila ditemukan acanthocyte
dan kadar kolesterol yang rendah, memberi petunjuk
adanya abetalipoproteinemia atauhipobetalipoproteine-
meia. Dalam hal ini, elektroforesis serum lipoproptein '
dianjurkan untuk membuat diagnosis. Pada bayi dengan
diare, lesi mukokutan dan alopesia serta kadar Zn serum
rendah mendukung diagnosis akrodermatitis enteropatika;
penyakit ini memerlukan pengobatan dengan Zn.
·
Pada pasien yang tinjanya berdarah dianjurkan pemerik-
saan kolonoskopi atau sigmoidoskopi dengan atau tanpa biopsi
rektum. Infeksi Salmonella dan Shigella, maupun chronic
inflammatory bowel disease, dapat menyebabkan tinja berdarah.
Pada kolitis alergik, kenaikan jumlah eosinofil mungkin terlihat
di lamina propria. Anak dengan diare profus selama atau
sesudah
pengobatan
dengan
antibiotik
memerlukan
kolonoskopi
atau
sigmoidoskopi
untuk
menyingkirkan
enterokolitis pseudomembranosa.
· Radiografi saluran gastrointestinal membantu mengiden-
tii`ikasi cacat bawaan (malrotasi, stenosis) dan kelainan-kelain-
an seperti : limfangiektasis, inflammatory bowel disease,
penyakit Hirschsprung, enterokolitis nekrotikans.
· Bila diduga kontaminasi usus halus, perlu dilakukan
intubasi duodenum untuk mendapatkan cairan duodenum dan
dilakukan biakan aerobik dan anaerobik. Organisme·organisme
coliform dan anaerob dalam keadaan normal tidak ditemukan di
usus halus; terdapatnya kuman-kuman ini memberi tanda
adanya kontaminasi.
· Melanjutnya diare berair dan kegagalan dalam semua
usaha oral feeding (termasuk elemental diet) menunjukkan
adanya intractable diarrhoea syndrome. Pasien biasanya me-
ngalamai malnutrisi dan alimentasi parenteral sering diperlu-
kan.
· Keadaan klinik tertentu dapat diduga dengan adanya sifat
tinja yang karakteristik. Misalnya, isi cairan yang banyak
menunjukkan intoleransi karbohidrat, chloride diarrhoea.
Warna pucat memberi dugaan penyakit hati atau empedu. Tinja
yang seperti berminyak dihubungkan dengan insufisiensi
pankreas. Adanya vegetable matter dan serat-serat makanan
mempunyai arti kecil dalam diagnosis
1
namun pada sakit perut
berulang yang diduga karena faktor ini artinya cukup penting
5
·
Pendekatan diagnostik
Diare yang menetap untuk lebih
dari
2--3 minggu sesudah
episode akut merupakan masalah yang penting. Hal ini meli-
puti spektrum klinik yang heterogen dan luas, mulai
dari
intoleransi laktosa yang dapat didiagnosis dan diobati dengan
cara yang mudah sampai intractable diarrhoea yang masalah-
nya sulit, balk diagnosis maupun pengobatannya.
Walker--Smith
6
menganjurkan suatu pendekatan diagnostik
yang meliputi hal-hal sebagai berikut :
-- menyingkirkan kelainan bedah,
-- diagnosis penyebab medik
Dalam praktek, terdapat dua kelompok utama masalah medik,
yaitu :
+ intoleransi akut terhadap susu (CMPSE)
+ suatu masalah yang lebih kronik dengan diare, menetap dan
failure to thrive.
Jadi, pendekatan diagnostik meliputi juga pemeriksaan tinja
yang dilakukan hati-hati dengan tekanan pada adanya excess
reducing substances maupun pemeriksaan parasit (Giardia,
Candida, Trichuris trichiura), bakteri dan virus.
Pada masalah yang lebih kronik, dilakukan biopsi usus halus
(pada bayi : sedikitnya yang berat badannya 3,5 kg) untuk
mencari kemungkinan adanya enteropati.
Tindakan mengeliminasi diet yang diikuti dengan pemberi-
an makanan yang dicurigai merupakan peranan yang penting
untuk membuat diagnosis. Memang sangat sering diagnosis
pada kelompok anak ini dilakukan secara retrospektif.
Labenthal (1979) mengemukakan bahwa biopsi usus halus
pada intractable diarrhoea penting dan berguna dan ditemukan
96% kasus-kasusnya menyebabkan atrofi mukosa.
Kerusakan usus halus akan mengakibatkan malabsorpsi
lemak dan karbohidrat. Hal ini akan digunakan oleh bakteri
untuk membentuk asam-asam organik dan akan meninggikan
osmolalitas isi usus, kenaikan sekresi cairan dan menstimulasi
motilitas. Di samping itu, proliferasi bakteri akan menimbul-
kan dekonjugasi asam empedu dan produksi endotoksin yang
menyebabkan melanjutnya sekresi air dan elektrolit.
Di bawah ditunjukkan pemeriksaan lengkap (bila fasilitas
mengizinkan) tahap demi tahap sebagai berikut :
(Lihat skema)
PENGELOLAAN
Umum dan dietetik
Penatalaksanaan dan pengobatan diare kronik tergantung
kepada penyebabnya. Sering pada bayi berumur kurang
dari
6
bulan terdapat intractable diarrhoea yang disertai malnutrisi
berat; kemungkinan adanya CMPSE ha
rus dipertimbangkan.
Pada kasus ini, sesudah koreksi parenteral dan dehidrasi di
atasi, dimulai pemberian 5% dekstrosa dalam air per oral.
Menurunnya reducing substances dan pH feses (kurang
dari
5,
5) pada pemberian minum 5% dekstrose dalam air, menun-
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 14, 1983
14
background image
15
Cermin Dunia Kedokteran No. 29, 1983
jukkan adanya malabsorpsi monosakarida . Ini sering terjadi
karena kerusakan mukosa dan/atau
overgrowth
bakteri di usus
halus.
Formula yang
paling baik diberikan (bila ASI tak mungkin
didapat), ialah yang mengandung glukosa polimer, bebas
laktosa, mengandung protein hidrolisat, medium chain
trigly-
ceride (MCT), osmolalitas kurang sedikit dari 300 mOsm/L dan
bersifat hipoalergenik. Formula yang memenuhi halhal tersebut,
di antaranya ialah formula Pregestimil. Menaikkan konsentrasi
formula dilakukan perlahan-lahan, mula-mula dianjurkan
konsentrasi sepertiga per oral, sedang cairan tetap diberikan
secara intravena. Selanjutnya formula dinaikkan menjadi dua per
tiga per oral, sisa cairan secara intravena.
Bila keadaan sudah cukup baik (kenaikan berat badan balk
yaitu sedikitnya 1 kg), maka Pregestimil diberikan dalam
konsentrasi penuh. Pemberian selanjutnya tergantung pada
keadaan klinik dan pemeriksaan laboratorium (bila mungkin
juga follow up biopsi) yang dilakukan secara teratur.
Penderita dengan alergi susu sapi akan toleran pada umur
sekitar 3 tahun.
7
Pengobatan
a.
Obat anti diare
Tidak perlu diberikan obat anti diare seperti kaolin, pektin,
difenoksilat (Lomotil). Tidak satu pun daripada obatobat ini
memberi efek positif pada patofisiologi. Penelitian baru-baru
ini memberi petunjuk bahwa obat-obat yang memperlambat
motilitas usus justru akan memperpanjang lamanya enteritis
karena infeksi.
b.
Obat anti mikroba
Pengobatan antibiotik pada umumnya tidak dianjurkan,
bahkan hal ini akan mengubah flora usus dan menimbulkan
keadaan diare menjadi lebih buruk. Untuk membersihkan isi
usus anak dengan infeksi usus karena bakteri, fungsi
peristaltik ternyata lebih efektifP Walaupun pada anak lebih
besar antibiotik sebaiknya tidak diberikan, namun pada
neonatus, anak yang sakit serius (sepsis atau lainnya), anak
dengan defisiensi imunologi dan anak dengan protracted
diarrhoea yang sangat berat, dianjurkan tetap diberikan. Di
samping itu, antibiotik masih dianggap berguna pada blind
loop syndrome.
7
Metronidazole merupakan obat yang efektif
dan aman untuk Giardia lamblia dan bakteri anaerob yang
sering terdapat pada blind loop syndrome.
c.
Kortikosteroid
Anak dengan kolitis ulserativa, paling tidak pada serangan
pertama memberi respons baik hanya terhadap enema
steroid, beberapa anak mendapat kombinasi steroid rektal
dan sistemik.'
d.
Imunosupresif
Obat imunosupresif (azathioprine) digunakan pada penya-
kit Crohn dan ini pun hanya diberikan bila pengobatan
konvensional tidak mungkin. Efek samping segera yang
terbanyak ialah penekanan sumsum tulang; karena itu pada
pasien perlu dilakukan pemeriksaan darah secara
teratur.
7
e. Kolestiramin
Penggunaan kolestiramin pada diare kronik, teiutama untuk
malabsorpsi asam empedu (pada reseksi akhir ileum) dan
pada infeksi usus karena bakteri (untuk mengikat endotok-
sin) sangat bermanfaat
f.
Operasi
Bila diare kronik terjadi pada kasus-kasus bedah seperti
misalnya penyakit Hirschsprung, enterokolitis nekrotik, maka
sering terdapat indikasi untuk melakukan operasi. Tindakan
ini hendaknya dilakukan setelah keadaan umum pasien
membaik.
Pengobatan dalam praktek sehari-hari
Setelah rehidrasi initial, proper feeding adalah esensial bagi
penyembuhan diare kronik. Protein yang adekuat, energi dan
nutrien esensial lainnya harus disediakan, untuk mengurangi
risiko episode yang melanjut daripada diare, PEM dai
kematian. Memuasakan penderita tidaklah dibenarkan. ASI
perlu dilanjutkan, bahkan waktu rehidrasi initial.
Tergantung basil pemeriksaan yang telah ditemukan pada
tiap tahap, (maka disusun working diagnosis/suspect diagnosis)
kemudian dapat dimulai pengobatan yang sesuai, sambil
menunggu basil pemeriksaan lanjutan yang kemudian akan
diberi pengobatan yang lebih sesuai.
Biasanya dalam praktek pada kasus dari diare kronik yang
berjalan telah lama dan telah ada gangguan-gangguan yang
berat dari setiap organ (pan malabsorpsi), maka diberikan :
(a) Untuk bayi berumur
kurang 5 bulan, misalnya Pregestimil
(di samping itu ASI diteruskan), yang mempunyai sifat-sifat
mengandung :
·
MCT
·
Protein hidrolysate (dipeptide/tripeptide)
·
Bebas laktosa & mengandung polimer glukosa
·
Hipoalergenik
·
Osmolaritas 296 mOsml/L (semua bahan/nutrien
tersebut sangat mudah diabsorpsi dan tidak menim-
bulkan diare).
(b) Untuk bayi berumur
lebih 5 bulan, yang sudah makan
"makanan padat" maka di samping ASI dan/atau Pregestimil
juga diberi
·
makanan yang mengandung Communited chicken base
formula
8
·
di Bagian Ilmu Kesehatan Anak sedang dicoba bubur
BREDA atau PREDA (bubur/porridge refeeding daging
ayam)
3
, yang mempunyai sifat-sifat/mengandung :
1. UFA
2. CM (cow's milk) protein free
3. Bebas laktosa
4. Mengandung : polimen glukosa.
5. Hipoalergenik.
Daftar Kepustakaan dapat diminta pada redaksi CDK atau
pada penulis.
Pencegahan dan Pengobatan Diare pada Anak di Rumah


Penulis: Webmaster

Diare masih merupakan masalah kesehatan nasional karena angka kejadian dan angka kematiannya yang masih tinggi. Balita di Indonesia rata-rata akan mengalami diare 2-3 kali per tahun. Dengan diperkenalkannya oralit, angka kematian akibat diare telah sangat menurun. Namun demikian, balita yang mengalami gizi kurang masih cukup tinggi, yang antara lain dapat merupakan akibat penyakit diare pada anak. Berikut akan dijelaskan secara ringkas mengenai pencegahan dan pengobatan diare di rumah.

Pola buang air besar pada anak

Pada umumnya, anak buang air besar sesering-seringnya 3 kali sehari dan sejarang-jarangnya sekali tiap 3 hari. Bentuk tinja tergantung pada kandungan air dalam tinja. Pada keadaan normal, tinja berbentuk seperti pisang. Dilihat dari kandungan airnya bentuk tinja bervariasi mulai dari “cair” (kadar airnya paling tinggi, biasanya terjadi pada diare akut), “lembek” (seperti bubur), “berbentuk” (tinja normal, seperti pisang), dan “keras” (kandungan air sedikit seperti pada keadaan sembelit). Pada bayi berusia 0-2 bulan, apalagi yang minum ASI, frekuensi buang air besarnya lebih sering lagi, yaitu bisa 8-10 kali sehari dengan tinja yang encer, berbuih dan berbau asam. Selama berat badan bayi meningkat normal, hal tersebut tidak tergolong diare, tetapi merupakan intoleransi laktosa sementara akibat belum sempurnanya perkembangan saluran cerna.

Warna tinja yang normal adalah kuning kehijauan, tetapi dapat bervariasi tergantung makanan yang dikonsumsi anak. Yang perlu diperhatikan adalah bila tinja berwarna merah (mungkin darah) atau hitam (mungkin darah lama/beku) atau putih seperti dempul (pada penyakit hati).

Kapan disebut diare ?

Anak dinyatakan menderita diare bila buang air besarnya “lebih encer” dan “lebih sering” dari biasanya. Tinja anak diare dapat mengandung lendir dan darah, tergantung pada penyebabnya. Gejala ikutan lainnya adalah demam dan muntah. Kadangkala gejala muntah dan demam mendahului gejala mencretnya.

Gejala yang timbul akibat penyakit diare

Karena terjadinya mencret dan muntah yang terus menerus, pada awalnya anak akan merasa haus karena telah terjadi dehidrasi (kekurangan cairan tubuh) ringan. Bila tidak ditolong, dehidrasi bertambah berat dan timbullah gejala-gejala: anak tampak cengeng, gelisah, dan bisa tidak sadarkan diri pada dehidrasi berat. Mata tampak cekung, ubun-ubun cekung (pada bayi), bibir dan lidah kering, tidak tampak air mata walaupun menangis, turgor berkurang yaitu bila kulit perut dicubit tetap berkerut, nadi melemah sampai tidak teraba, tangan dan kaki teraba dingin, dan kencing berkurang. Pada keadaan dehidrasi berat nafas tampak sesak karena tubuh kekurangan zat basa (menderita asidosis). Bila terjadi kekurangan elektrolit dapat terjadi kejang.

Prinsip pengobatan diare

Penyakit diare dapat mengakibatkan kematian bila dehidrasi tidak diatasi dengan baik dan dapat mencetuskan gangguan pertumbuhan (kurang gizi) bila tidak diberikan terapi gizi yang adekuat. Sebagian besar diare pada anak akan sembuh sendiri (self limiting disease) asalkan dicegah terjadinya dehidrasi yang merupakan penyebab kematian. Oleh karena itu, prinsip pengobatan diare adalah:

*

Rehidrasi: mengganti cairan yang hilang, dapat melalui mulut (minum) maupun melalui infus (pada kasus dehidrasi berat).
*

Pemberian makanan yang adekuat: jangan memuasakan anak, pemberian makanan seperti yang diberikan sebelum sakit harus dilanjutkan, termasuk pemberian ASI. Pada diare yang ringan tidak diperlukan penggantian susu formula.
*

Pemberian obat seminimal mungkin. Sebagian besar diare pada anak akan sembuh tanpa pemberian antibiotik dan antidiare. Bahkan pemberian antibiotik dapat menyebabkan diare kronik.

Pengobatan dimulai di rumah ?

Bila anak menderita diare dan belum menderita dehidrasi, segera berikan minum sebanyak 10 ml per kilogram berat badan setiap kali mencret agar cairan tubuh yang hilang bersama tinja dapat diganti untuk mencegah terjadinya dehidrasi, sehingga mencegah terjadinya kematian. Sebaiknya diberikan cairan oralit yang telah tersedia di pasaran saat ini seperti oralit 200 ml, oralit I liter, Oralit-200 dan Pharolit-200 dan juga larutan oralit siap minum seperti Pedialyte dan Renalyte. Bila tidak tersedia, dapat pula digunakan larutan yang dapat dibuat di rumah seperti larutan garam-gula atau larutan garam-tajin (lihat Tabel 1).

Tabel 1. Cara membuat larutan garam-gula dan larutan garam-tajin

Larutan Garam-Gula


Larutan Garam-Tajin

Bahan terdiri dari 1 sendok teh gula pasir, seperempat sendok teh garam dapur dan 1 gelas (200 ml) air matang.

Setelah diaduk rata pada sebuah gelas diperoleh larutan garam-gula yang siap digunakan.


Bahan terdiri dari 6 (enam) sendok makan munjung (100 gram) tepung beras, 1 (satu) sendok teh (5 gram) garam dapur, 2 (dua) liter air. Setelah dimasak hingga mendidih akan diperoleh larutan garam-tajin yang siap digunakan.

Bila telah terjadi dehidrasi, minumkanlah oralit 50-100 ml (tergantung berat ringannya dehidrasi) per kilogram berat badan dalam 3 jam untuk mengobati dehidrasi dan bila masih mencret oralit terus diberikan seperti di atas, yaitu 10 ml per kilogram berat badan setiap mencret (lihat Tabel 2).

Bagaimana mengetahui keadaan anak membaik dan tidak perlu dibawa ke dokter? Tentu saja dengan melihat adanya perbaikan dari gejala-gejala yang disebutkan di atas. Kesadaran anak membaik, rasa hausnya akan menghilang, mulut dan bibirnya mulai membasah, kencing banyak, dan turgor kulit perutnya membaik.

Kapan dirujuk ke puskesmas atau dokter ?

Anak dirujuk ke puskesmas atau dokter bila:

*

Muntah terus menerus sehingga diperkirakan pemberian oralit tidak bermanfaat
*

Mencret yang hebat dan terus menerus sehingga diperkirakan pemberian oralit kurang berhasil
*

Terdapat tanda-tanda dehidrasi (mata cekung, turgor kurang, tangan dan kaki dingin, tidak sadar).

Pencegahan diare

Diare umumnya ditularkan melaui 4 F, yaitu Food, Feces, Fly dan Finger. Oleh karena itu upaya pencegahan diare yang praktis adalah dengan memutus rantai penularan tersebut. Beberapa upaya yang mudah diterapkan adalah:

*

Penyiapan makanan yang higienis
*

Penyediaan air minum yang bersih
*

Kebersihan perorangan
*

Cuci tangan sebelum makan
*

Pemberian ASI eksklusif
*

Buang air besar pada tempatnya (WC, toilet)
*

Tempat buang sampah yang memadai
*

Berantas lalat agar tidak menghinggapi makanan
*

Lingkungan hidup yang sehat

Tabel 2. Pengobatan diare di rumah

Derajat dehidrasi


Jenis

cairan


Jumlah

cairan


Jadwal pemberian

Belum dehidrasi


*

Cairan rumah tangga atau oralit



*

10 ml per kg berat badan setiap kali mencret



*

24 jam

Dehidrasi ringan


*

Oralit



*

50 ml per kgbb
*

10 ml per kgbb tiap mencret



*

3 jam

*

24 jam

Dehidrasi sedang


*

Oralit



*

100 ml per kgbb
*

10 ml per kgbb tiap mencret



*

3 jam

*

24 jam

Dehidrasi berat


Segera dibawa ke Puskesmas atau RS karena anak perlu mendapat infus

Penutup

Diare pada anak dapat menyebabkan kematian dan gizi kurang. Kematian dapat dicegah dengan mencegah dan mengatasi dehidrasi dengan pemberian oralit. Gizi kurang dapat dicegah dengan pemberian makanan yang memadai selama berlangsungnya diare. Peran obat-obatan tidak begitu penting dalam menangani anak dengan diare. Pecegahan dan pengobatan diare harus dimulai di rumah.

Beethoven Virus and Kingdom of the Winds Gets Off to A Good Start

With KBS “Kingdom of the Winds” and MBC “Beethoven Virus” beginning their broadcast yesterday night, the burning question that most viewers are concerned with is who will end up as the king of the Wed-Thus timeslot.

“Kingdom of the Winds” decided to go ahead with their regular broadcast, ignoring the temptation to show the 2010 World Cup qualifier game between South and North Korea, achieving a good rating. According to AGB Nielsen, “Kingdom of the Winds” achieved 14% and was just 0.5 percentage points lower than SBS “Working Mom” which will be ending in two weeks time.

Netizens praised the drama for it’s dramatic and life-like war scenes but some felt that it was like a sequel to “Jumong”. The PD explained that both dramas can’t be compared and were different as “Jumong” was based on fantasy while “Kingdom of the Winds” will be following actual events in history.

MBC decided to air the 2010 World Cup qualifier (achieved 17.5%) and disrupt the original airing schedule for “Beethoven Virus” which was shown instead immediately after the match. But that didn’t have any effect on the ratings as it got an impressive 15.1%, no doubt aided by the fallout from the match.

Netizens commented that “Beethoven Virus” was an upbeat drama and was delighted to be able to listen to classical music being played in a drama. But others felt that the characters and the playing of the instruments was a mismatch and didn’t gel well. They could tell at one glance that they were not actually playing the instruments. Nevertheless, it was a passable debut.

So with both dramas getting to a good start rating-wise, the real battle starts tonight when they will go head-to-head in the same timeslot.

With “Painter of the Wind” starring Park Shin Yang and Moon Geun Young coming up in two weeks time on SBS, the battle for supremacy is expected to get even hotter. Viewers are really going to be spoilt for choice.

East of Eden Establishes Commanding Lead

MBC has clearly a winner on it’s hands after it’s mega-budget drama “East of Eden” posted it’s highest rating ever yesterday amidst new competition.

According to TNS Media Korea, “East of Eden” obtained 26.3% for Episode 8 last night and was the highest since it’s broadcast. SBS “Tazza” who was making it’s debut got 12.9% while KBS “Love Married” placed last with only 4.9%.

Each passing episode has seen the ratings spike up
Episode 1 - 11.3% | Episode 4 - 17.8%
Episode 5 - 18.6% | Episode 7 - 19.7%

Especially if you consider that “East of Eden” was battling the incumbent leader “Gourmet” all this while and is now facing the new upstart “Tazza”, but it has seemingly not been affected at all on the ratings front and has developed a core audience now (me included, I am hooked regardless of the seemingly cliched storyline). Indeed, “East of Eden” has been made more watchable since all the lead actors/actresses came out from 8th September. I fear for the rest of the competition because it looks set to burst the 30% rating very soon.

Korean Hana Yori Dango to Be Shown by End December 2008

The latest news from Group Eight is that the Korean version of Hana Yori Dango will be broadcasted on KBS2TV this coming December 2008.

It has been a pretty frustrating wait for fans as they keep getting conflicting news about the drama. After earlier news that it would be shown in 2009, fans are holding back on the latest announcement by Group Eight.

According to Group Eight, “The Korean version of Hana Yori Dango will make it’s debut by end-December on KBS 2TV in the Mon-Tue timeslot as a mini-series. We will not disappoint the expectations of fans and will offer something totally different from the Taiwanese and Japanese drama adaptations.”

So if things go as planned, the Korean version of Hana Yori Dango will debut right after “The World That They Live In” starring Song Hae Gyo and Hyun Bin ends it’s run. It’s a pity that we still don’t know who will be in it.

susu untuk diare

Diare Akibat Susu


Penulis: Agus Firmansyah

Gula atau karbohidrat

Dalam bahasa sehari-hari, kita mengenal istilah gula pasir, gula jawa, gula bit dan sebagainya. Dalam dunia kedokteran, yang dimaksud gula adalah karbohidrat. Dan istilah gula susu yang sering kita dengar berarti sejenis karbohidrat yang terdapat dalam susu.
Karbohidrat itu sendiri merupakan salah satu unsur gizi yang dibutuhkan tubuh dari makanannya di samping protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Zat ini merupakan bahan bakar tubuh, karena dari zat ini kita mendapatkan energi datau tenaga untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Lebih dari 50 persen kalori yang didapat tubuh biasanya disediakan leh karbohidrat.
Ada berbagai macam karbohidrat, begitu juga dengan sumbernya. Seperti gula pasir yang sering kita gunakan termasuk dalam golongan karbohidrat yang disebut sukrosa. Sedang gula susu dikenal juga dengan laktosa.

Susu sebagai sumber laktosa

Air Susu Ibu (ASI) mengandung laktosa sebagai karbohidratnya. Demikian juga dengan susu sapi, susu kambing, dan susu dari hewan mamalia lainnya kecuali anjing laut. Susu formula atau susu botol dengan sendirinya juga mengandung laktosa.
Dari penelitian tersingkap bahwa kelenjar pankreas (yang menghasilkan enzim-enzim pencernaan) pada bayi baru lahir belum bekerja dengan sempurna. Akibatnya bayi baru lahir tidak dapat mencerna karbohidrat dari sumber lain seperti nasi. Di dalam jonjot-jonjot usus, terdapat enzim yang berfungsi memecah laktosa. Laktosa yang diminum bayi akan dipecah menjadi jenis gula yang lebih kecil molekulnya, yaitu glukosa dan galaktosa. Kedua gula inilah yang diserap usus masuk ke pembuluh darah dan kemudian diedarkan ke seluruh tubuh untuk digunakan sebagai bahan bakar.

Berkurangnya enzim laktase

Enzim laktase dalam usus bayi sudah terbentuk sejak janin. Kadar maksimal akan tercapai pada usia janin 6-7 bulan sampai bayi lahir. Bayi-bayi prematur atau bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram, biasanya memiliki enzim laktase lebih kecil. Untuk kasus-kasus bayi dengan laktase kurang, mereka harus diberi makanan susu khusus.
Berkurangnya kadar enzim laktase di dalam jonjot-jonjot usus akan mengganggu kesehatan bayi. Pada penyakit diare misalnya, karena serangan kuman terjadilah kerusakan jonjot-jonjot. Kerusakan ini akan mengakibatkan jonjot-jonjot usus berkurang. Dan dengan sendirinya kadar enzim laktasepun akan berkurang.
Kemampuan seseorang untuk menangkal gangguan kesehatan akibat susu juga dipengaruhi oleh enzim laktase ini. Orang-orang kulit putih termasuk golongan yang tahan terhadap susu. Lain halnya dengan orang kulit berwarna seperti Asia, umumnya mereka tergolong yang tidak tahan susu. Pada orang kulit berwarna, kadar enzim laktase mereka umumnya menurun setelah berusia 3 tahun. Rendahnya enzim laktase ini pun tetap bertahan sampai dewasa. Lain halnya dengan orang kulit putih, mereka tetap dapat mempertahankan kada enzim laktase yang tinggi sampai mereka dewasa.
Berdasarkan teori, ketidakmampuan orang kulit berwarna memiliki enzim laktase rendah karena mereka tidak mendapatkan susu tambahan setelah mereka disapih. Akibatnya, tubuh mereka tidak dirangsang untuk cukup memproduksi enzim laktase. Dan karena terjadi setelah bertahun-tahun, dari generasi ke generasi, maka terjadilah perubahan genetik. Hasilnya, saat ini orang kulit berwarna akan sakit perut dan mencret kalau minum susu. Memang tidak semua orang, sebagian kecil orang kulit berwarna dapat tetap memiliki kadar enzim laktase tinggi. Walaupun kada enzim laktase di dalam tubuh rendah, sebagian besar dari kita masih dapat mengkonsumsi susu dengan toleransi baik. Asal, susu yang kita minum tidak terlalu banyak, misalnya hanya sekitar 200 sampai 400 cc sehari.
Penyakit kurang gizi (malnutrisi) juga dapat membuat anak tidak tahan susu. Sebab, dalam keadaan gizi buruk, jumlah jonjot usus berkurang. Akibatnya kadar enzim laktase pun berkurang.

Bahaya tidak tahan susu

Tidak tahan susu atau lebih sering intoleransi laktose diartikan sebagai gejala gangguan kesehatan berupa perut kembung, mencret, dan sakit perut kalau minum susu yang mengandung laktosa. Keadaan ini bisa saja menyerang semuaorang baik tua maupun muda seperti Ibu Vina dan bayinya. Kalau seorang bayi terserang diare, untuk sementara waktu ia tidak dapat menerima laktosa. Bila ia masih terus diberikan susu yang mengandung tinggi laktosa, maka mencretnya akan berlangsung terus. Padahal, laktosa yang tidak dapat dicerna usus tersebut merupakan makanan empuk bagi bakteri yang ada di dalam usus. Akibatnya, bakteri itupun akan berkembang baik.
Pada saat memanfaatkan laktosa tersebut, bakteri tidak menghabiskan seluruhnya. Tetapi terdapat sisa-sisa berupa asam-asam organik yang bersifat dapat menambah kerusakan jonjot-jonjot usus. Penambahan bakteri yang berlipat ganda ini pun akan membahayakan usus yang telah rusah tadi. Akibatnya diare pun akan berkepanjangan dan akan terjadi gangguan pencernaan dan penyerapan makanan. Pada akhirnya gangguan ini akan mempengaruhi tumbuh kembang anak.
Tidak semua bayi yang menderita diare akan tidak tahan susu atau laktosa. Biasanya dokter akan menentukan apakah perlu diganti susu yang didapat bayi. Kalaupun perlu, penggantian tersebut hanya bersifat sementara.

Diare dan susu khusus

Laktosa memang tidak sembarangan ada di dalam ASI atau susu formula kalau tidak ada keunggulannya. Keunggulan utama adalah dalam penyerapan mineral kalsium yang sangat dibutuhkan bayi untuk pertumbuhan tulangnya. Sebagian ahli juga berpendapat bahwa laktosa juga berguna dalam mematangkan susunan saraf pusat (otak) bayi, karena ia dibutuhkan dalam pembentukan sarung serabut saraf.
Walaupun laktosa sangat dibutuhkan oleh tubuh karena ketidakmampuan tubuh menerimanya terpaksa susu harus diganti dengan susu khusus. Tetapi susu ini juga bisa digunakan oleh penderita diare pada saat serangan saja, untuk kemudian kembali pada susu biasa. Hal ini mengingatkan laktosasangat dibutuhkan bayi. Komposisi susu khusus ini disesuaikan dengan keadaan penderita diare. Disesuaikan dengan berkurangnya laktase dalam tubuh penderita, maka jumlah laktosa tersebut dikurangi dan diganti dengan jenis karbohidrat lain atau jenis glukosa polimer. Bisa juga laktosa tersebut dihilangkan dan diganti dengan jenis glukosa lain.

Tiga golongan susu khusus untuk diare adalah:

  • Formula susu sapi rendah laktosa
    Pada jenis susu ini kadar laktosa susu normal yaitu 7 gram/100 milimeter diturunkan menjadi kira-kira 1 gram/100 milimeter. Contoh susu : LLM dan Almiron

  • Formula susu sapi bebas laktosa
    Laktosa yang ada pada susu dihilangkan dan diganti dengan gula lain. Contoh susu : Bebelac FL dan Pregetismil

  • Formula susu kedele
    Formula ini terbuat dari kedele sehingga tidak mengandung susu sapi. Otomatis susu ini tidak mengandung laktosa.
    Contoh: Nursoy, nutrisoya, dan Prosobee

the project

Diare Akut e.c Rotavirus
April 25, 2008 — Ya2N^_^

Editors : Yayan Akhyar Israr, S.Ked. Agusnarizal, S.Ked. FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU. RSUD ARIFIN ACHMAD PEKANBARU PROVINSI RIAU.
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Defenisi

Buang air besar encer lebih dari 3 kali per hari selama kurang dari 7 hari yang disebabkan oleh inflamasi pada lapisan membran gastrointestinal disebabkan oleh infeksi rotavirus (5).

2.2 Epidemiologi

Baik di negara berkembang maupun negara maju, rotavirus sebagai penyebab 1/3 kasus rawat inap diare pada bayi dan anak-anak dibawah usia 5 tahun. Di daerah iklim sedang, diare yang disebabkan oleh rotavirus mencapai puncak selama musim dingin, sedangkan di daerah tropis kasus ditemukan sepanjang tahun (6).

Di Jakarta dan Surabaya sekitar 21-42 persen balita meninggal akibat diare dari rotavirus. Persentase yang lebih tinggi ditemui di tingkat Asia. Rata-rata dengan angka di atas 50 persen. Di Korea bahkan kasus diare akibat rotavirus 73 persen. Untuk tingkat dunia, 440 ribu kematian anak setiap tahun meninggal akibat rotavirus. Di Indonesia kematian anak mencapai 240.000 orang per tahun. Kematian anak karena diare 50.400 orang. Dari jumlah itu 10.088 anak di antaranya akibat rotavirus. ‘Rotavirus menyebabkan diare berat. Jadi jika pasien tidak dirawat di sarana kesehatan yang memadai, kemungkinan besar ia meninggal (4).

Hasil penelitian yang dilakukan Eko Raharjo dkk di RS Karantina Jakarta pada tahun 1989 melaporkan bahwa balita dan anak-anak dibawah umur lima tahun cenderung terinfeksi rotavirus, selain itu juga dilaporkan bahwa infeksi roita virus lebih sering terjadi pada musim kemarau (4).

2.3 Etiologi

Rotavirus adalah virus dengan ukuran 100 nanometer yang berbentuk roda yang termasuk dalam family Reoviridae. Virus ini terdiri dari grup A, B, C, D, E dan F. grup A sering menyerang bayi dan grup B jarang menyerang bayi. Terdapat empat serotipe major dan paling sedikit 10 serotipe minor dari rotavirus grup A pada manusia. Pembagian serotipe ini didasarkan pada perbedaan antigen pada protein virus 7 (VP7). Virus ini terdiri dari tiga lapisan yaitu kapsid luar, kapsid dalam dan inti. Rota virus terdiri dari 11 segmen, setiap segmen mengandung RNA rantai ganda, yang mana setiap kode untuk enam protein struktur ( VP1, VP2, VP3, VP4, VP6, VP7 ) dan lima protein nonstruktur (NSP1, NSP2, NSP3, NSP4, NSP 5). Dua struktur protein yaitu VP7 yang terdiri dari protein G dan glikoprotein dan VP4 yang terdiri dari protein P dan protease pembelahan protein, merupakan protein yang melapisi bagian luar dari virus dan merupakan pertimbangan yang penting untuk membuat vaksin dari rotavirus. Protein pembuat kapsid bagian dalam paling banyak adalah VP6, dan sangat mudah ditemukan dalam pemeriksaan antigen, sedangkan protein nonstruktur kapsid bagian dalam adalah NSP4 yang merupakan sebagai faktor virulensi dari rotavirus, meskipun protein lain juga terlibat dalam mempengaruhi virulensi dari rotavirus (1,5,9).

2.4 Patogenesis

Rotavirus menyerang dan memasuki sel enterosit yang matang pada ujung vili usus kecil. Virus ini menyebabkan perubahan pada struktur dari mukosa usus kecil, berupa pemendekan villi dan terdapatnya infiltrat sel-sel radang mononuklear pada lamina propria. Kelainan morfologis ini dapat minimal, dan hasil penelitian baru menunjukan bahwa infeksi rotavirus tanpa kerusakan sel epitel dari usus halus. Rotavirus menempel dan masuk dalam sel epitel tanpa kematian sel yang dapat menimbulkan diare. Sel epitel yang dimasuki oleh virus mensintesis dan mensekresi sitokin dan kemokin, yang mana langsung menimbulkan respon imun dari penderita dalam bentuk perubahan morfologi dan fungsi sel epitel. Peneletian baru juga mengatakan diare terjadi pada infeksi rotavirus karena adanya protein nonstruktural dari virus yang mirip dengan enterotoksin yang menyebabkan sekresi aktif dari klorida melalui peningkatan kosentrasi kalsium intra sel (7).


2.5 Gejala Klinis

Infeksi rotavirus khas mulai sesudah masa inkubasi kurang dari 48 jam dengan demam ringan sampai sedang dan muntah yang disertai dengan mulainya tinja cair yang sering. Muntah dan demam khas mereda selama hari kedua sakit, tapi diare sering berlanjut selama 5-7 hari. Tinja tanpa sel darah merah atau darah putih yang nyata. Dehidrasi mungkin terjadi dan memburuk dengan cepat, terutama pada bayi. Walaupun kebanyakan neonatus yang terinfeksi dengan rotavirus tidak bergejala (8).

Dalam pandangan klinis infeksi rotavirus terus berkembang dari diare ringan sampai diare berat yang mengakibatkan dehidrasi, kekurangan elektrolit, shock dan kematian pada bayi dan anak-anak. Pada anak berumur diatas tiga bulan akan menimbulkan gastroenteritis, ketika terjadi reinfeksi akan gejalanya tidak muncul (asimptomatik). Masa inkubasi dari rotavirus adalah 1-3 hari. Dengan serangan tiba-tiba dan memberikan gejala demam, muntah dan diare berair (watery diarrhoea). Gejala gastrointestinal akan hilang setelah 3-7 hari, tetapi penyembuhan infeksi rotavirus mungkin bisa sampai 2-3 minggu (9).

2.6 Diagnosis

2.6.1 Anamnesis

Anamnesis sangat penting untuk menegakkan diagnosis dari diare akut oleh karena infeksi virus khususnya rotavirus. Dari anamnesis dapat diketahui onset, frekuensi dari diare, durasi, volume, apakah diare berair (watery diarrhea), diare berdarah atau berlemak. Dalam melakukan anamnesis pada pasien diare harus lebih fokus pada beratnya diare dan dehidrasi. Intake sangat perlu ditanyakan, jumlah buang air kecil, kehilangan berat badan. riwayat makanan (7).

2.6.2 Pemeriksaan fisik

Pada kasus-kasus diare, hal yang paling penting dalam diagnosisnya adalah penentuan ada atau tidaknya dehidrasi dikarenakan dehidrasi merupakan penyebab utama terjadi kematian pada diare 8. Tanda-tanda adanya dehidrasi haruslah segera dideteksi dini agar dapat segera di tangani. Pada pemeriksaaan fisik harus diperhatikan tanda utama dehidrasi, yaitu kesadaran, rasa haus, dan turgor kulit abdomen. Perhatikan juga tanda tambahan, yaitu ubun-ubun besar cekung, mata cekung, air mata ada/tidak, kering/tidak mukosa mulut, bibir atau lidah, dan jangan lupa menimbang berat badan. Tanda dan derajat dehidrasi dapat dilihat sebagai berikut (10,11):

Tabel 1. Klasifikasi dehidrasi menurut WHO

Klasifikasi


Gejala dan tanda

Dehidrasi berat


Terdapat dua atau lebih dari tanda-tanda berikut ini:

· Letargis atau tidak sadar

· Mata cekung

· Tidak bisa minum atau malas minum

· Cubitan kulit perut kembalinya sangat lambat.

Dehidrasi ringan sedang


Terdapat dua atau lebih dari tanda-tanda berikut ini:

· Gelisah, rewel/mudah marah

· Mata cekung

· Haus minum dengan lahap

· Cubitan kulit perut kembalinya lambat.

Tanpa dehidrasi


Tidak cukup tanda-tanda untuk diklasifikasikan sebagai dehidrasi berat atau ringan/sedang

Untuk menentukan berat ringannya kondisi pasien akibat diare dapat juga ditunjukkan dari tekanan darah, nadi, pernapasan. Pemeriksaan fisik juga dapat menentukan etiologi dari diare akut, dimana pada diare akibat infeksi bakteri biasanya ditandai oleh demam sangat tinggi (7).


2.6.3 Pemeriksaan laborotorium

Pemeriksaan laborotorium pada infeksi rotavirus tidak ada indikasi. Pemeriksaan laborotorium dilakukan apabila curiga kepada infeksi bakteri atau parasit. Pemeriksaan feses dilakukan bertujuan untuk menilai apakah ada sel darah pada feses, mikroskopik dari protozoa atau kultur bakteri (7).

Untuk menegakkan diagnosis dari diare akut karena infeksi rotavirus diperlukan pemeriksaan feses dengan metode rapid antigen tests, salah satunya dengan enzyme immunoassay (EIA) dengan sensitivitas dan spesifik lebih dari 98 % atau latex agglutination test yang kurang sensitif dibanding EIA. Antibodi anti rotavirus yaitu imunoglobulin A dan M diekresikan difeses setelah hari pertama terinfeksi rotavirus. Tes antibodi masih positif sampai 10 hari setelah infeksi pertama dan dapat lebih lama lagi jika terjadi infeksi berulang. Oleh karena itu pemeriksaan tes antibodi dapat digunakan untuk mendiagnosa rotavirus (7).


2.7 Diagnosis Banding

Diagnosis banding meliputi penyebab infeksius lain seperti bakteri dan protozoa. Kadang-kadang keadaan bedah seperti apendisitis, obstruksi usus, intususepsi pada mulanya menyerupai diare yang disebabkan virus (8).


2.8 Penatalaksanaan

Anak yang terinfeksi rotavirus biasanya mendapatkan terapi suportif untuk menghilangkan gejala dan komplikasi. Contoh, terjadinya dehidrasi yang merupakan komplikasi paling potensial dari infeksi rotavirus, keadaan ini sering ditangani dengan terapi redidrasi oral. Pada kasus-kasus berat yang diikuti oleh adanya muntah, terapi oral sulit dilakukan dan ini memberikan indikasi untuk dilakukan pemberian cairan intravena serta perawatan di rumah sakit (12). Tujuan utama terapi adalah mencegah dehidrasi (rumatan), mengkoreksi kekurangan cairan elektrolit secara cepat dan mencegah gangguan nutrisi (10).

Terapi rencana A

Terapi rencana A ditujukan untuk diare tanpa rehidrasi. Terapi dapat dilaksanakan dirumah, sehingga orang tua diajarkan beberapa hal terlebih dahulu agar dapat mencegah dehidrasi pada anaknya, yaitu :

· Berikan cairan lebih banyak dibanding biasanya untuk mencegah dehidrasi. Larutan oralit dapat diberikan sebanyak 5 – 10 ml/kgBB setiap buang air besar cair sampai diare berhenti.

· Berikan makanan sesuai umurnya yang cukup untuk mencegah kurang gizi.

· Anak harus dibawa ke petugas kesehatan secepatnya bila diare tidak membaik dalam 3 hari atau bila ditemukan beberapa keadaan di bawah ini :

1. Diare makin sering dan tinja makin cair
2. Muntah makin sering, sehingga masukan makanan menjadi terbatas.
3. Anak sangat haus sekali
4. Demam tinggi, tinja berdarah

Tabel 3. Komposisi larutan glukosa elektrolit (Oral Rehydration Salt) menurut WHO dalam mmol/liter (10,11)

No


Larutan Elektrolit Glukosa


mmol/Liter

ORS- WHO

Osmolaritas rendah


ORS – WHO

Standar

1.

2.

3.

4.

5.


Na+

Glukosa Anhindros

Cl-
K+

Sitrat


75

75

65

20

10


90

111

80

20

10




Osmolaritas


245


311


Terapi rencana B

Terapi rencana B ditujukan untuk diare dehidrasi ringan-sedang. Pada keadaan ini anak harus mendapat larutan oralit dan dipantau di pojok Upaya Rehidrasi Oral (pojok URO) atau ruang rawat sehari (‘one day care’). Larutan oralit diberikan sebanyak 75 ml/kgBB yang diberikan selama 3 jam dengan memantau kemajuan hidrasi. Orangtua harus diajarkan tentang cara menyiapkan dan memberikan larutan oralit. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian larutan oralit pada anak dengan dehidrasi ringan-sedang (10):

* Anak sebaiknya dipantau di Ruang Rawat Sehari yang seharusnya ada di setiap sarana kesehatan sampai tidak terdapat tanda dehidrasi.
* Larutan oralit diberikan secara sedikit demi sedikit. Bila anak muntah, tunggu beberapa menit, selanjutnya teruskan pemberian larutan oralit dengan cara lebih lambat.
* Bila kelopak mata bengkak, hentikan pemberian larutan oralit, dan berikan air matang atau ASI/susu formula. Setelah bengkak menghilang, berikan oralit sesuai terapi rencana A.
* Bila secara klinis terlihat intoleransi laktosa, ASI dapat diteruskan berselang-seling dengan air putih, sedangkan bayi yang mendapat susu formula dapat diberikan susu rendah laktosa.

Terapi Rencana C

Terapi rencana C ditujukan untuk diare dehidrasi berat. Pada keadaan ini, anak harus dirawat di rumah sakit dan mendapat cairan rehidrasi parenteral yang diberikan sebanyak 100 cc/kgBB selama 6 jam pada bayi berumur di bawah 12 bulan, dan 3 jam pada anak berumur di atas 12 bulan. Ringer laktat adalah cairan rehidrasi parenteral yang telah dipakai secara luas, namun bila dilihat komposisi elektrolit yang terkandung di dalam cairan KaeN 3B lebih mendekati komposisi elektrolit tinja diare non kolera dibanding komposisi elektrolit di dalam ringer laktat. Berdasarkan hal tersebut, Divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/ RSUPNCM menggunakan cairan KaeN 3B sebagai cairan rehidrasi parenteral pada diare non-kolera. Larutan oralit dapat diberikan begitu anak dapat minum tanpa ada penyulit yang biasanya tercapai setelah 2-3 jam pemberian rehidrasi parenteral (10).

Tabel 4. Komposisi ionik cairan infus intravena

Larutan


Kation (mmol/L)


Anion (mmol/L)


Na+


K+


Cl-


Laktat


Glukosa

Dianjurkan :

- Ringer Laktat

- Ringer Laktat dengan dektrose 5%

Dapat diterima :

- Normal saline (NaCl 0,9%)

Tdk dapat diterima :

- Larutan Glukosa (dextrose)


130

130

154

0


4

4

0

0


109

109

154

0


28

28

0

0


0

278

0

278

Laktat diubah oleh hati menjadi bikarbonat, yang mana dibutuhkan untuk koreksi dasar asidosis

Pada diare dehidrasi berat, bila tidak mendapat ASI dapat diberikan susu formula bebas laktosa. Susu formula bebas laktosa memperlihatkan kegagalan terapi lebih rendah secara bermakna dibanding susu formula normal dan rendah laktosa.

Secara singkat dapat dilihat pada diagram (10):

PMBERIAN CAIRAN TAMBAHAN UNTUK DIARE DAN MELANJUTKAN PEMBERIAN MAKANAN

RENCANA TERAPI A: Penanganan Diare di Rumah

Jelaskan kepada ibu tentang 4 aturan perawatan di Rumah:

Beri Cairan Tambahan, pemberian suplemen zinc, lanjutkan Pemberian Makan, Kapan harus kembali

1. Beri cairan Tambahan

- Jelaskan kepada ibu :

* Beri ASI lebih sering dan lebih lama pada setiap kali pemberian
* Jika anak memperoleh ASI Eksklusif, berikan oralit atau cairan matang sebagai tambahan
* Jika anak tidak memperoleh ASI Eksklusif, berikan 1 atau lebih cairan berikut ini: Oralit, larutan gula garam, cairan makanan (kuah sayur, air tajin) atau air matang

Penting untuk memberikan larutan ORS di rumah jika:

* Anak telah diobati dengan Rencana Terapi B atau C pada kunjungan ini
* Anak tidak dapat kembali ke klinik jika diarenya bertambah parah

- Ajari ibu cara membuat dan memberikan oralit, beri ibu 6 bungkus oralit (200 ml) untuk digunakan di rumah

- Tunjukkan kepada ibu berapa banyak cairan yang harus diberikan sebagai tambahan kebutuhan cairannya per hari:

§ sampai umur 1 tahun 50 sampai 100 ml setiap kali berak

§ umur 1 sampai 5 tahun 100 sampai 200 ml setiap kali berak

Katakan kepada ibu:

* Agar meminumkan sedikit-sedikit tapi sering dari mangkuk/cangkir/gelas
* Jika anak muntah, tunggu 10 menit, kemudian lanjutkan lagi lebih lambat
* Lanjutkan pemberian cairan tambahan sampai diare berhenti.

2. Berikan suplemen Zinc

- Beritahu ibu berapa suplemen Zinc yang harus diberikan :

· sampai umur 6 bulan : ½ tablet per hari selama 14 hari

· > 6 bulan : 1 tablet per hari

- Beritahu ibu bagaimana cara pemberian suplemen Zinc

· Infant : hancurkan dan campurkan tablet dalam sedikit air susu ibu, ORS atau air putih bersih, dalam cangkir cekil atau sendok.

· Anak yang lebih tua : tablet bisa langsung ditelan atau dapat juga dihancurkan dan dicampurkan dengan sedikit air putih bersih dan diberikan dengan cangkir atau sendok

- Ingatkan ibu untuk tetap mmberikan suplemen Zinc selama 14 hari

3. Lanjutkan pemberian makanan

4. Kapan harus kembali

RENCANA TERAPI B: Penanganan Dehidrasi Ringan/Sedang dengan Oralit

Berikan oralit di klinik sesuai yang dianjurkan selama periode 4 jam.

Tentukan jumlah oralit yang diberikan dalam 4 jam pertama

* Jika anak menginginkan oralit lebih banyak dari pedoman diatas, berikan.
* Untuk anak berumur kurang dari 6 bulan yang tidak menetek, berikan juga 100-200 ml air matang selama periode ini.

- Beritahu ibu cara pemberian ORS

* Minumkan sedikit-sedikit tapi sering dari cangkir/mangkuk/gelas
* Jika anak muntah, tunggu 10 menit. Kemudian lanjutkan lagi dengan lebih lambat
* Lanjutkan ASI selama anak mau.

- Setelah 3 jam

* Ulangi penilaian dan klasifikasikan kembali derajat dehidrasinya
* Pilih rencana terapi yang sesuai untuk melanjutkan pengobatan
* Mulailah memberi makan pada anak ini ketika masih di klinik

- Jika ibu harus pergi sebelum menyelesaikan pengobatan.

* Tunjukkan cara menyiapkan cairan oralit di rumah
* Tunjukkan berapa banyak oralit yang harus diberikan di rumah untuk menyelesaikan 3 jam pengobatan

* Beri bungkus oralit yang cukup untuk rehidrasi. Juga beri 6 bungkus sesuai yang dianjurkan dalam Rencana Terapi A
* Jelaskan 4 aturan perawatan di rumah.

1. Berikan cairan tambahan

2. Berikan suplemen Zinc

3. Lanjutkan pemberian makanan

4. Kapan harus kembali

Suportif

Probiotik (Lactic acid bacteria) merupakan bakteri hidup yang mempunyai efek yang menguntungkan pada host dengan cara meningkatkan kolonisasi bakteri probiotik di dalam lumen saluran cerna sehingga seluruh epitel mukosa usus telah diduduki oleh bakteri probiotik melalui reseptor dalam sel epitel usus, sehingga tidak terdapat tempat lagi untuk bakteri patogen untuk melekatkan diri pada sel epitel usus sehingga kolonisasi bakteri patogen tidak terjadi. Bakteri baik yang termasuk ke dalam kelompok ini seperti Bifidobacterium, Eubacterium, dan Lactobacillus. Dengan mencermati fenomena tersebut bakteri probiotik dapat dipakai sebagai cara untuk pencegahan dan pengobatan diare baik yang disebabkan oleh Rotavirus maupun mikroorganisme lain, pseudomembran colitis maupun diare yang disebabkan oleh karena pemakaian antibiotika yang tidak rasional rasional (antibiotic associated diarrhea) (14,15).

Mikroekologi yang rusak oleh karena pemakaian antibotika dapat dinormalisir kembali dengan pemberian bakteri probiotik. Mekanisme kerja bakteri probiotik dalam meregulasi kekacauan atau gangguan keseimbangan mikrobiota komensal melalui 2 model kerja rekolonisasi bakteri probiotik dan peningkatan respon imun dari sistem imun mukosa untuk menjamin terutama sistem imun humoral lokal mukosa yang adekuat yang dapat menetralisasi bakteri patogen yang berada dalam lumen usus yang fungsi ini dilakukan oleh secretory IgA (SIgA) (13).

Terdapat banyak laporan tentang penggunaan tatalaksana diare akut pada anak. Isolauri dan kawan-kawan meneliti 71 anak yang dirawat dengan diare akut. Pasien secara acak diberikan probiotik (Lactobacillus GG), atau lactobacillus GG diberikan sebagai bubuk kering, atau diberikan yogurt yang telah dipasteurisasi sebagai plasebo. Lam diare berkurang dari 2,4 pada kelompok plasebo menjadi 1,4 hari pada kelompok yang disuplementasi. Pada penelitian ini ditemukan juga bahwa 82% diare disebabkan oleh rotaviru, ternyata reduksi lamanya diare lebih nyata bila yang dianalisis hanya kasus diare yang disebabkan oleh rotavirus (16).

Lactobacillus GG juga digunakan oleh Raza dan kawan-kawan pada uji klinik di Pakistan. 40 abak dengan diare akut secara acak diberikan Lactobacillus GG atau plasebo 2 kali per hari selama 2 hari. Diare menetap pada 48 jam pada 31% kelompok yang diobati dibandingkan 75% pada kelompok plasebo. Guarino dan kawan-kawan memberikan Lactobacillus GG dengan dosis 3 kali 109 cfu atau plasebo pada 100 anak dengan diare akut. Lama diare berkurang dari 6 hari pada kelompok plasebo menjadi 3 hari pada kelompok yang diberikan probiotik. Sornikova dan kawan-kawan meneliti 40 anak berusia 6-36 bulan yang dirawat di rumah sakit karena diare akut yang secara acak diberikan Lactobacillus reuteri dosis 1010 per hari atau plasebo selama 5 hari. Setelah 48 jam terapi hanya 26% kelompok probiotik yang masih menderita diare dibanding 81% pada kelompok plasebo. Kemungkinan mekanisme efek probiotik dalam pengobatan tertera dalam tabel ini (16):

Tabel 5. Mekanisme efek probiotik pada diare

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.


Perubahan lingkungan mikro lumen usus (Ph, Oksigen)

Produksi bahan antimikroba terhadap beberapa patogen

Komposisi nutrien

Mencegah adhesi patogen pada enterosit

Modifikasi toksin atau reseptor toksin

Efek tropik terhadap mukosa usus melalui penyediaan nutrien

Imunomodulasi

Di samping itu suplemen zinc sebagai rencana terapi A sesegera mungkin setelah anak dapat makan setelah melewati 4 jam pertama periode rehidrasi. Sedangkan untuk makanan seharusnya tidak diberikan selama 4 jam pertama periode rehidrasi kecuali ASI. Bagaimanapun, apabila rencana terapi B yang dilakukan pada anak lebih lama dari 4 jam maka makanan harus diberikan dengan selang waktu 3-4 jam seperti yang tertera pada terapi rencana A. Semua anak dengan usia >6 bulan harus diberikan makanan sebelum dipulangkan, ini membantu memberikan empati pada ibu betapa pentingnya memnberikan makanan selama diare (10).


2.9 Pencegahan

1. Untuk mencegah diare akibat rotavirus, bisa diberikan vaksin rotavirus peroral yaitu. Tetravalent-Rhesus based rotavirus vaccine (RRV-TV) telah diizinkan digunakan untuk bayi di Amerika Serikat. Vaksin ini sebaiknya diberikan pada usia 6 minggu – 1 tahun. Jadwal yang disarankan adalah 3 dosis berurutan pada usia 2,4 dan 6 bulan. Pemberian imunisasi rutin dengan vaksin tersebut akan menurunkan jumlah pasien diare yang dirawat akibat rotavirus secara bermakna. Imunisasi ini di Amerika Serikat dan Filipina telah diwajibkan, sementara itu di Indonesia vaksinasi rotavirus belum ada, tetapi vaksin rotavirus keluaran MERK dan GSK sedang menunggu proses izin dari Badan POM. Vaksin diberikan 2-3 kali pada bayi usia 6-8 minggu. Harganya memang masih mahal Rp 300ribu-500ribu satu kali penggunaan vaksin (17).

2. Perilaku hidup bersih dan sehat mencegah penularan penyakit melalui fekal-oral tidak efektif dalam mencegah penularan virus ini, oleh karena virus dapat hidup untuk jangka lama pada permukaan yang keras, pada air terkontaminasi dan di tangan. Rotavirus relatif kebal terhadap disinfektan yang umum digunakan tetapi dapat diinaktivasi dengan klorin.

3. Di tempat-tempat penitipan anak, mengenakan baju yang dapat menutup seluruh bagian tubuh bayi termasuk menutup popok bayi, diketahui dapat menurunkan angka penularan infeksi.

4. Mencegah terjadinya pemajanan dari bayi dan anak kecil dengan orang yang menderita diare akut di dalam lingkungan keluarga dan intitusi (6).

2.10 Prognosis

Infeksi rotavirus bersifat self-limited disease yang terjadi setelah 3-9 hari gejala muncul. Namun pada kasus ini dapat terjadi dehidrasi berat yang pada akhirnya dapat menyebabkan kematian. Dengan rehidrasi yang tepat akan dapat mencegah komplikasi yang serius (15,18).


DAFTAR PUSTAKA

1. WHO. Weekly Epidemiological Record. Avaliable from : http://www.who.wer. Last Update : 10 August 2007. [Diakses tanggal 10 Desember 2007]

2. Virdayati. Perbandingan Manifestasi Klinis dan Pola Epidemiologi Infeksi Rtavirus dan Non Rotavirus pada Penderita Diare Akut. Availiable from: http://www.digilib.litbang.Depkes.go.id. Last Update : May 26th 2005. [Diakses Tanggal 12 Desember 2007].

3. Alimsardjono, Lindawati. Frekuensi Rotavirus dan Bakteri Enteropatogen Peyerta Pada Tinja Anak Dengan Diare Akut. http://admin[at]lib.unair.ac.id. Last Update November 2003.

4. Rahardjo A. Rotavirus Pada penderita Diare Anak-Anak Usia Cermin Dunia Kedokteran, No 62. 1990.

5. Cahyadi. Gastroenteritis. http://www.pediatrik.com. Last Update: Oktober 2006. [diakses pada tanggal 24 November 2007].

6. Departemen Kesehatan Indonesia. Enteritis Rotavirus. Avaliable from: http://www.pppl.depkes.go.id. Last Update : 2007. [Diakses Tanggal 10 Desember 2007].

7. Stefano Guandalini, MD. Gastroenteritis viral. Avaliable from : http://emedicine.com. Last Update : September 28th 2006. [diakses pada tanggal 24 November 2007].

8. Bass Dorsey M. Rotavirus Dan Agen-Agen Virus Gastroenteristi Lain. Dalam: Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Vol 2. Ed 15 th .Richard E behrman, Robert M, Ann M Arvin (editors). Jakarta: EGC.1999.1125

9. World Health Organization (WHO). Generic protocols for hospital-based surveillance to estimate the burden of rotavirus gastroenteritis in children and a community-based survey on utilization of health care services for gastroenteritis in children. Available from : www.who.int/vaccines-documents/. World Health Organization. 2002. Last Update : November 2002. [Diakses Tanggal 10 Desember 2007].

10. Bennish M, Bhan MK, Golden MHN, et-al. Treatment of Diarrhoae ; Amanual fol phsycians and other senior health workers. World Health Organization (WHO). 1995.

11. Ladinsky M, Duggan A, Santosham M, et-al. World Health Organization (WHO) Oral Rehydration Solution in US Pediatric Practice. American Medical Asosiation. 2000.

12. Parashar UD, Gibson CJ, Bresee JS, et-al. Rotavirus and Severe Childhood Diarhhea. Avaliable from : http://www.cdc.gov/eid. Last Update : February 2008. [Diakses Tanggal 10 Desember 2007].

13. Fardah A, Ranuh RG, Sudarmo SM. Diare. Avaliable from : http://www.Pediatrik.com. Last update November 29th 2007 [diakses pada tanggal 17 November 2007].

14. Gsianturi. Probiotik dan Prebiotik Untuk Kesehatan. http://www.gizi.net/cgi-bin. Last Update : June 2005.[Diakses tanggal 15 Desember 2007]

15. Stoppler Mellisa Conrad, MD. Rotavirus Infection. http://www. Medicinenet.com. Last Update : January 2005. [Diakses tanggal 15 Desember 2007]

16. Firmansyah A. Probiotik dan prebiotik : Aplikasi Klinis Pada anak. Dalam : JGAI (Jurnal Gastrohepatologi Anak Indonesia). Vol I no. 1 September 2006. Jakarta : Badan Koordinasi Gastrohepatologi Anak Indonesia. 2006 ; 6-9.

17. Departemen Kesehatan Indonesia. UGM

Jumat, 2008 Juni 13

Tata cara dan waktu pendaftaran :
1. Waktu pendaftaran dilakukan tanggal 23 Juni – 7 Juli 2008.
2. Pendaftaran peserta UM Undip Tahun 2008 dilakukan secara semi online melalui situs http://um.undip.ac.id/. Peserta dapat memilih lokal tempat melakukan verifikasi dan ujian pada saat melakukan pendaftaran. Adapun lokal tempat verifikasi dan ujian adalah : Semarang, Jakarta, Lampung, Samarinda, dan Jambi.
3. Membayar biaya seleksi melalui Bank BNI sesuai ketentuan biaya seleksi selama waktu pendaftaran tanggal 23 Juni – 7 Juli 2008.
4. Melakukan verifikasi / pendaftaran ulang untuk mendapatkan nomor peserta ujian, dilakukan pada tanggal 9 - 12 Juli 2008 (Rabu-Sabtu jam 08.00-16.00), di masing-masing lokal Semarang, Jakarta, Lampung, Samarinda, dan Jambi dengan
a. Menyerahkan resi asli pembayaran biaya seleksi.
b. Menyerahkan print out kartu peserta ujian dan bukti hadir yang sudah ditempel pas foto peserta terbaru (ukuran 4x6) dan menandatangani formulir pendaftaran di depan petugas verifikasi.
c. Menyerahkan isian formulir SPMP yang telah ditandatangani orang tua/wali/penyandang dana peserta di atas meterai Rp. 6.000,-.

kalo ga semangat, sebenarnya ada langkah-langkah yang kalau bisa diterapkan maka kamu akan punya semangat seperti api abadi.. langkah kesatu adalah: temukan impian2mu ---------setiap orang pasti punya impian yang benar2 ingin dicapai. Gantungkan impianmu setinggi langit-langit kamar[maksudnya yang masih masuk akal, jangan bermimpi kamu akan bisa keluar angkasa dalam sekejap tanpa menggunakan kendaraan dan tanpa berpikir] langkah kedua adalah: percayalah akan kekuatan impian ---------yakinlah bahwa impian akan mendatangkan kekuatan bagimu, yakinlah bahwa otakmu mampu mencari cara untuk menuju impianmu. Ketika kita kecil, kita bahkan rela jatuh bangun demi berdiri. Terluka tak kita rasakan,, itu semua karena keinginan kita untuk bisa berdiri.. langkah ketiga adalah: ingat bahwa tidak ada makan siang yang gratis ---------tidak ada sesuatu yang bisa didapat cuma2, semua butuh pengorbanan. Bahkan setelah buang air besar pun kita harus cebok dan menyiramnya. Kemerdekaan pun diraih dengan pengorbanan harta dan nyawa.. langkah keempat adalah: lakukan pengorbanan yang wajar ---------berkorban tidak boleh berlebihan dan harus tepat. Kamu gak mau kan membayar 2.000 demi sebuah krupuk[seharga 200] yang sangat kau inginkan. Jangan sampai demi keinginanmu terus mengikuti forum ini, kamu sampai nggak makan, nggak mandi, dan nggak tidur. Ada hak-hak dari tubuh yang harus kita penuhi. langkah kelima adalah: dekatilah secara proporsional ----------pada akhirnya, kita tidak boleh menganggap sesuatu sebagai harga mati. Sebab itu sama saja mengkondisikan otak dalam keadaan bahaya dan mengaktifkan otak reptil kita. Sama halnya dengan memposisikan diri dalam sebuah kebakaran. Harga matinya adalah memadamkan api. Maka, kita akan melakukan cara2 darurat yang tidak akan optimal. ----------keputusan akhir ada di tangan Tuhan[kalau Anda atheis, saya ga tahu mau nulis apa.. no offense]. Kita cuma harus berusaha dan hasil akhirnya terserah Tuhan. Kalu kamu sudah berusaha maksimal, tidak ada yang namanya GAGAL.. So, berdo'alah selalu
Seluruh PTN di Indonesia yang menyelenggarakan SPMB hanya akan menerima 86.607 mahasiswa baru yang tersebar pada 1.615 program studi (Kompas, 11 Juni 2004). Kalau lulusan SMTA yang ikut SPMB diasumsikan sekira setengah juta orang, berarti yang tidak lulus SPMB jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang lolos. Demikian sulitkah untuk menembus SPMB? Tidak juga, kalau calon mahasiswa mampu mengetahui, memahami, dan menerapkan strategi tembus SPMB dengan jurus 3K, yakni Kesempatan, Kemampuan, dan Kemauan, sebagaimana dielaborasi di bawah ini.

Kesempatan
Pada hakikatnya, menjadi peserta SPMB adalah suatu kesempatan, suatu peluang yang sudah semestinya disikapi secara positif oleh para siswa lulusan SMTA. Setiap lulusan SMTA bisa mengikuti SPMB sampai tiga kali. Sewaktu baru lulus, setahun setelah lulus, dan dua tahun setelah lulus. Bagi siswa lulusan 2004 , SPMB tahun ini adalah kesempatan pertama untuknya dan jika tidak diterima, masih ada dua kesempatan lagi (2005, 2006). Bagi lulusan 2003, jika tidak diterima tahun ini, maka tinggal satu kesempatan (2005). Dan bagi lulusan 2002, tahun sekarang merupakan kesempatan terakhir untuknya, jika tidak diterima, maka hilanglah peluang menjadi mahasiswa PTN melalui SPMB. SPMB 2004 diikuti 49 PTN seluruh Indonesia yang terbagi ke dalam tiga regional, yakni regional I meliputi PT di wilayah Sumatera, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Kalimantan Barat; regional II : Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur; dan regional III : Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua.
(Data lengkap PTN per regional dapat dilihat di Buku Petunjuk SPMB 2004 atau di http://www.spmb.or.id) SPMB diselenggarakan di kota-kota di mana PTN berada dan di kota-kota lain yang oleh panitia dianggap strategis. Seleksi ujian tersebut diselenggarakan pada saat yang bersamaan dan menggunakan soal yang sama atau setara. Peserta ujian disarankan memilih tempat ujian yang paling dekat dengan tempat tinggalnya. Tempat ujian tidak merupakan kriteria penerimaan, sehingga peserta ujian tidak perlu mengikuti ujian di tempat program studi atau universitas yang menjadi pilihannya. Peserta ujian dapat memilih program studi di setiap PTN, dengan persyaratan salah satu pilihannya berada di regional di mana peserta mengikuti ujian; pilihlah tempat ujian yang paling dekat atau paling efisien. Lokasi ujian tidak menjadi pertimbangan diterima atau tidak diterimanya peserta di PTN, tetapi lebih ditentukan oleh nilai SPMB yang bersangkutan dan nilai-nilai dari pesaing di program studi pilihannya. SPMB mempermudah siswa untuk bisa mendaftar dan diterima di PTN yang diminatinya. Mereka cukup sekali ujian dan memilih beberapa PTN tanpa harus pergi dan menginap ke lokasi di mana PTN pilihannya berada. Mereka hanya perlu mengadakan satu kali perjalanan setelah pasti diterima di PTN pilihannya. Jadi, untuk dapat diterima di PTN, pilihlah program studi yang tidak favorit, yang berdaya saing rendah. Artinya, calon mahasiswa yang meminatinya tidak terlalu banyak. Strategi yang direkomendasikan di sini : pilihan ke-1 program studi nonfavorit, pilihan ke-2 program studi nonfavorit, dan/atau pilihan ke-3 (untuk yang mengikuti IPC) program studi nonfavorit juga.

Kemampuan
Pada dasarnya, SPMB adalah suatu proses seleksi akademis yang mencakup tiga kelompok ujian : IPA, IPS, dan IPC/Campuran (IPA dan IPS). Setiap lulusan SMTA, jurusan apa saja, boleh mengikuti SPMB kelompok IPA, IPS, atau IPC. Lulusan SMA jurusan IPS yang mengikuti SPMB kelompok IPA juga boleh memilih program studi apa saja di kelompok IPA, termasuk Kedokteran, Komputer, Teknik, Pertanian, dsb. Secara umum, terdapat tiga mata ujian : kemampuan kuantitatif dan kemampuan verbal sebanyak 75 soal (yaitu matematika dasar, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris, masing-masing 25 soal), kemampuan IPA 75 soal (matematika, biologi, fisika, kimia, dan IPA terpadu, masing-masing 15 soal), dan kemampuan IPS 75 soal (sejarah, geografi, ekonomi??masing-masing 20 soal??, dan IPS terpadu 15 soal). Peserta ujian harus mampu mengalokasikan waktu dengan jumlah soal yang tersedia, sehingga tidak ada alasan kekurangan waktu pengerjaan soal. Perlu dicatat, kemampuan verbal waktunya 180 menit, kemampuan IPA 150 menit, dan kemampuan IPS 90 menit. Oleh karena setiap pelajaran mempunyai bobot yang sama, maka kerjakanlah semua soal ujian. Kalau peserta SPMB sama sekali tidak mengerjakan soal salah satu mata pelajaran, maka ia akan mendapat ??nilai-mati?? untuk pelajaran tersebut. Sungguhpun nilai yang lain bagus sekali, kalau ada ??nilai mati?? maka ia tidak akan diterima!. Semua peserta SPMB akan diurutkan menurut nilai ujiannya, kemudian dialokasikan pada program studi pilihannya, dengan ketentuan bahwa peserta yang lebih baik mendapat prioritas untuk dialokasikan lebih dahulu. Jika masih ada tempat di pilihan pertama, ia akan diterima di program studi pilihan pertama. Jika tempat pada program studi pilihan pertama telah penuh, dan masih ada program studi pilihan kedua, ia akan diterima pada program studi pilihan kedua. Jika tempat pada program studi pilihan pertama dan program studi pilihan kedua telah penuh, maka ia tidak akan diterima walaupun nilainya masih cukup tinggi. Bagi yang memilih kelompok IPC dengan tiga pilihan, maka pilihan ketiga akan diproses dengan cara yang sama. Pendek kata, SPMB tidak mengenal passing grade. Setiap program studi menerima calon mahasiswa sesuai urutan nilainya, nilai yang lebih baik mendapat prioritas untuk diterima lebih dulu, dan penerimaan berhenti setelah daya tampung terpenuhi. Jadi, kalau calon mahasiwa memilih program studi favorit, maka ia harus berupaya untuk meraih nilai ujian maksimal. Dengan asumsi, apabila nilai ujiannya tinggi, maka akan dapat mengalahkan para pesaingnya di program studi itu.

Kemauan
Pemilihan program studi di PTN, idealnya, selain karena calon mahasiswa mampu menaklukkan soal-soal ujian SPMB juga harus selaras dengan minat dan bakatnya, sehingga ia diharapkan sukses menyelesaikan studinya di PTN. Namun, dalam SPMB, melalui uji keterampilan program studi keolahragaan dan kesenian saja minat dan bakat calon mahasiswa dapat diketahui. Sebab, berdasarkan Keputusan Mendiknas No. 173/U/2001 tentang Penerimaan Calon Mahasiswa pada Perguruan Tinggi, SPMB hanya bertujuan untuk memilih calon mahasiswa baru yang mempunyai kemampuan akademik untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan di PTN sesuai dengan batas waktu yang telah ditetapkan. Dari sini, domain afektif dan psikomotor (menurut Taxonomy Bloom)??kecuali untuk program studi keolahragaan dan kesenian??tidak terungkapkan. SPMB selain menafikan minat dan bakat calon mahasiswa juga tidak mengungkap perilakunya selama bersekolah di SMTA (misalnya : rajin, malas, tukang menyontek, sering kesiangan/terlambat, aktivis, trouble maker, dan lain-lain perbuatan positif maupun negatif siswa). Berdasarkan uraian di atas, dalam mengikuti SPMB, calon mahasiswa hendaknya menggunakan hati nuraninya. Maksudnya, jangan menjadikan PTN sebagai ??tujuan??, tetapi sebagai ??alat?? belaka untuk mencapai tujuan yang riil yakni dunia kerja atau masa depan. Adalah wajar nian tatkala calon mahasiswa memilih program studi favorit di PTN, karena program-program studi itu memang menjanjikan dunia kerja atau masa depan yang relatif lebih baik; dengan gaji, penghasilan, atau kesejahteraan yang layak untuk hidup. Jadi, biarpun gagal diterima di kedokteran umum, arsitektur, teknik informatika, komputer, ekonomi, manajemen, akuntansi, sastra Inggris, dan lain-lain program studi ??favorit?? di PTN; hal itu bukanlah akhir dari segalanya. Toh, masih banyak PTS-PTS yang membuka program-program studi sejenis dengan kualitas pembelajaran yang tidak kalah dengan PTN dan biaya pendidikan yang cukup terjangkau calon mahasiswa. Lalu, mengapa tetap ngotot ke PTN, kalau tujuan utamanya adalah meraih masa depan yang lebih baik?.